POV: Belajar Menjadi Orangtua
Jika anak sering membantah, mungkin ia belum paham mana yang benar mana yang salah, mungkin ia perlu mengerti bagian dari kehidupan yang disebut dengan ‘konsekuensi’. Tindakan positif akan menjadi atmosfer positif, tindakan negatif akan memanggil energi negatif.
Jika sering ia memilih untuk tak pulang
tanpa penjelasan, kita perlu bertanya pada diri ‘adakah rumah telah memberinya
ruang untuk saling berbincang? Bukan sekedar kumpulan aneka perintah dan
larangan. Karena telah banyak rumah yang berdiri hanya sebagai bangunan, tempat
transit dari beragam kesibukan tugas dan pekerjaan, bukan ‘tempat pulang yang
nyaman dan dirindukan’.
Jika caranya berkomunikasi tetiba terasa
keras dan kasar, ‘adakah lingkungan tempatnya berpijak telah memberinya teladan
yang bar-bar?’ atau justru kita sendirilah yang membuatnya berubah menjadi ‘pembuat
onar’.
Kita percaya menyekolahkannya di sekolah
yang bagus, tapi tentu harus selalu ingat bahwa Tripusat Pendidikan terdiri
dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Ki Hajar Dewantara). Maka
seharusnya peringatan Hari Pendidikan Nasional tak hanya berhenti soal upacara
di sekolah dan pake baju batik atau kebaya. Tapi juga harus ‘dirayakan’ di rumah
juga. Dalam bentuk yang lebih ‘romantis’, dengan ‘hadir’ sepenuhnya menemani
anak-anak kita.
Tentu tak mudah menjadi orangtua, karena
cara orangtua mengasuh kita dulu tak mungkin diterapkan persis dengan cara kita
mendidik anak saat ini. Juga tak mudah menjadi anak, karena dia juga baru
pertama kali mengalaminya. Perlu saling belajar untuk mendapatkan cara terbaik
berkomunikasi. Perlu saling bersabar untuk terus menjadi yang terbaik dalam
bertumbuh meraih mimpi.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025
“Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”
Selamat bertumbuh menjadi orangtua,
keluarga, pendidik maupun masyarakat yang turut serta dalam mendidik Generasi
Emas Indonesia. Seperti kata pepatah “it takes a village to raise a child’
(perlu satu desa untuk mendidik anak). Karena Pendidikan akan bermakna jika
kita turut berbuat, turut terlibat dan turut bertanggungjawab atas tumbuh
kembang generasi mendatang.
Untuk putra kami:
Maafkan jika tak sempurna, kami sebagai orangtua
Tapi yang pasti kami hanya ingin kalian bahagia
Bila bentakan kecilku patahkan hatimu, lebih keras lagi dunia ini kan menghakimimu
Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini
Kau harus kuat, kau harus hebat…permata
hatiku
(Virgoun)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar