Minggu, 04 Mei 2025

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2025

 POV: Belajar Menjadi Orangtua


Jika anak sering membantah, mungkin ia belum paham mana yang benar mana yang salah, mungkin ia perlu mengerti bagian dari kehidupan yang disebut dengan ‘konsekuensi’. Tindakan positif akan menjadi atmosfer positif, tindakan negatif akan memanggil energi negatif.

 

Jika sering ia memilih untuk tak pulang tanpa penjelasan, kita perlu bertanya pada diri ‘adakah rumah telah memberinya ruang untuk saling berbincang? Bukan sekedar kumpulan aneka perintah dan larangan. Karena telah banyak rumah yang berdiri hanya sebagai bangunan, tempat transit dari beragam kesibukan tugas dan pekerjaan, bukan ‘tempat pulang yang nyaman dan dirindukan’.

 

Jika caranya berkomunikasi tetiba terasa keras dan kasar, ‘adakah lingkungan tempatnya berpijak telah memberinya teladan yang bar-bar?’ atau justru kita sendirilah yang membuatnya berubah menjadi ‘pembuat onar’.

 

Kita percaya menyekolahkannya di sekolah yang bagus, tapi tentu harus selalu ingat bahwa Tripusat Pendidikan terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Ki Hajar Dewantara). Maka seharusnya peringatan Hari Pendidikan Nasional tak hanya berhenti soal upacara di sekolah dan pake baju batik atau kebaya. Tapi juga harus ‘dirayakan’ di rumah juga. Dalam bentuk yang lebih ‘romantis’, dengan ‘hadir’ sepenuhnya menemani anak-anak kita.

 

Tentu tak mudah menjadi orangtua, karena cara orangtua mengasuh kita dulu tak mungkin diterapkan persis dengan cara kita mendidik anak saat ini. Juga tak mudah menjadi anak, karena dia juga baru pertama kali mengalaminya. Perlu saling belajar untuk mendapatkan cara terbaik berkomunikasi. Perlu saling bersabar untuk terus menjadi yang terbaik dalam bertumbuh meraih mimpi.

 

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025

“Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”

Selamat bertumbuh menjadi orangtua, keluarga, pendidik maupun masyarakat yang turut serta dalam mendidik Generasi Emas Indonesia. Seperti kata pepatah “it takes a village to raise a child’ (perlu satu desa untuk mendidik anak). Karena Pendidikan akan bermakna jika kita turut berbuat, turut terlibat dan turut bertanggungjawab atas tumbuh kembang generasi mendatang.



Untuk putra kami:

Maafkan jika tak sempurna, kami sebagai orangtua

Tapi yang pasti kami hanya ingin kalian bahagia


Bila bentakan kecilku patahkan hatimu, lebih keras lagi dunia ini kan menghakimimu

Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini

Kau harus kuat, kau harus hebat…permata hatiku

(Virgoun)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar