Ini adalah foto bersama keluarga dari jalur Bapak. Bapakku adalah anak bungsu dari 13 bersaudara. Usianya saat ini 77 tahun. Maka bayangkanlah berapa banyak saudara bapak telah beranak pinak dan bercucu. Aku belum tahu persisnya dan dimana saja rumahnya. Tapi yang pasti, dari seluruh sebanyak ini kami saling mengenal satu sama lain.
Ayah bapak bernama Mbah Bardjo. Aku belum pernah bertemu karena beliau telah meninggal saat aku lahir. Istrinya bernama Mbah Jo putri, meskipun namanya asli adalah Rusminah. Sepanjang yang kuingat, Mbah Jo putri sudah sepuh sejak aku kecil. Tapi giginya masih bagus dan kuat karena kebiasaannya 'Nginang' (tradisi kuno Indonesia mengunyah campuran daun sirih, pinang dan kapur gambir). Bahkan, makanan favoritnya adalah kacang atom. Beliau juga punya doa jawa yang panjaaa...ng banget setiap kali cucu-cucunya salim. Sebagiannya kira-kira begini, 'tekano jongko jangkahmu, lancaro rejekimu, suk mben dadi mantri guru...' dan sederet 'mantra' bahasa jawa yang kini aku sudah lupa.
Bapakku diasuh oleh budeku sejak masih belia (bude adalah saudara Bapak nomor lima). Saudara bapak yang lain ada yang di tinggal di desa kami, di Surabaya dan ada juga yang sudah meninggal. Pastinya, kini dari Mbah Bardjo dan Mbah Rusminah telah bertambah jumlah yang sangat banyak.
Rumah bude selalu jadi 'jujugan' hampir seluruh saudara jauh yang 'mudik ke desa' karena beliau adalah saudara tertua yang tinggal di Kediri. Terutama pada saat lebaran. Maka sejak kecil banget, aku sudah biasa dengan seluruh hiruk pikuk keramaian lebaran saat mereka kumpul bersama. Setelah Bude meninggal, tradisi ini berlanjut terus hingga sekarang di rumah tinggal Bapak.
Foto Lebaran
Setelah para Gen Z lahir dan HP marak digunakan dimana-mana, Foto lebaran adalah tradisi kami berikutnya. Mengapa? karena semakin tahun akan ada yang "datang" sebagai anggota keluarga baru dan yang belum sempat pulang dan pengen dikirimi foto dokumentasi. Bahkan ada juga yang telah berpulang dan hanya bisa kami doakan bersama-sama.
Berbagai cerita, canda dan obrolan gak penting selalu dinantikan oleh semua. Meskipun setiap tahun menunya itu-itu saja. Nasi pecel, rempeyek homemade, dawet dan cincau, tape ketan hitam homemade plus opor ayam buat para bocil dan mereka yang gak suka makanan pedas. Kadang ditambah dengan aneka makanan bawaan mereka yang dari rantau untuk saling disajikan di meja makan.
Berbagi Tugas
Maka lengkaplah sudah komposisinya kini. Mulai dari Gen Baby Boomers, Gen X, Gen Milenial, Gen Z dan sekarang Gen Alpha. Bisa dibilang pembagian tugasnya cukup unik. Gen Baby Boomers bisa duduk manis saling bercerita tentang anak cucu mereka. Gen X dan Milenial (termasuk aku) bisa saling melepas kangen sambil menata hidangan dan aneka camilan.
Gen Z (seusia anakku) punya tugas istimewa saling bercanda saling mengenal saudara. Kelak, mereka juga akan saling mengenalkan suami/istrinya juga anak-anaknya. Beberapa diantara mereka melihat ke arah kami 'mungkin untuk menunjukkan kepada yang lain, yang mana bapak atau ibunya'. Ada juga sih para gadis yang kemudian nyempil di pojokan teras, sekedar mengekspresikan diri dengan live tik tok 'velocity'. Gen Alpha? Tentu saja sebagian besar masih membuntuti ibuk atau ayahnya, tapi semakin bertambah usia tentu mereka akan mengenal kami semua.
Demikianlah, foto-foto penuh senyuman ini diambil di akhir sesi. Itu belum termasuk aneka foto random, candid maupun selfi. Mahal dan langka? Iya, karena hanya bisa diambil setahun sekali. Saat yang di Kediri, Tangerang, Bekasi, Semarang, Wonogiri kumpul bersama di rumah kami. Sehat-sehat terus ya kita semuanya. Kita berjuang untuk bertemu dan berfoto kembali lebaran tahun depan...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar