Siang itu sangat panas. Aku menyeka keringat sesaat sebelum memasuki ruang kelas. Mengajar di kelas sains tidak selalu butuh energi yang besar. Tapi kelas ini adalah kelas istimewa. Kelas yang sangat heterogen kemampuan akademisnya dan juga menjadi momok bagi sebagian guru pengajarnya. Kelas ini tidak pernah full energi dan full amunisi untuk mengikuti pelajaran. Ada saja siswa yang tidur di kelas, tidak membawa buku atau alat tulis, ijin ke kamar mandi berkali-kali, dan tentu saja banyak yang terlambat mengumpulkan tugas. Berkali-kali. Berhari-hari. Tanpa merasa bersalah, apalagi memperbaiki diri.
Angin berhembus sepoi, mengusir sejenak gerah usai menaiki tangga lantai dua menuju dimana kelas itu berada. Mengetuk pintu. Randi membuka pintu. Spontan kuucapkan terima kasih sambil tersenyum. Siswa itulah yang hampir selalu membuka pintu dan membawakan buku teman-temannya ke meja guru. Tapi belakangan, aku selalu bertanya siapa yang piket di hari aku mengajar jika papan tulis harus dihapus, membantu memasang LCD atau mengambil kembali buku tugas yang sudah kukoreksi di ruang guru.
“Assalamualaikum…Selamat Siang semuanya…”. Aku tersenyum sembari berjalan menuju meja guru. Sebagian siswa menjawab dan bersegera duduk di bangku yang tidak tertata rapi. Sebagian siswa sedang sibuk, mengerjakan tugas dengan menyalin milik temannya. Dan tentu saja, sebagian lagi ada yang tidur. Aku memandang seisi kelas dengan teliti, sejenak mempelajari situasi. “Baik, silahkan semuanya berdiri…” Aku mengatur posisi ice breaking sederhana menyebutkan kata bersambung berdasarkan huruf terakhir yang disebutkan oleh temannya. Riuh sejenak. Aku persilahkan mereka duduk kembali.
Setelah apersepsi aku menuliskan tujuan pembelajaran hari ini. Sistem Syaraf Manusia. “Baik, sebelum kita masuk pada materi hari ini, apakah ada yang kalian tanyakan tentang materi minggu lalu? Senyap. Apakah materi Sistem Syaraf sudah kalian baca? Diam. Apakah ada yang bersedia untuk mengemukakan apa yang sudah dibaca tentang Sistem Syaraf Manusia?” Saling menoleh ke temannya. Aku tetap tersenyum. Sudah kuduga. Seperti biasanya. Tidak apa memberi mereka waktu untuk “belajar membaca”.
Minggu lalu bahkan mereka begitu asyik dengan gawainya saat temannya presentasi menggunakan model tulang manusia. Aku sengaja berkeliling ke bangku siswa dan menempatkan diri di belakang agar dapat mencermati presentasi sekaligus mengamati keseluruhan suasana kelas. Berada dibelakang bangku beberapa siswa yang terlihat fokus dengan gawainya. Nonton video prank, tutorial entahlah, reels, T*kT*k dan sembarang short video yang tertampil acak pada fyp. Tapi ketika kutanyakan mereka sedang menonton apa jawabannya cuma ‘nggak Bu’ lalu meletakkan gawainya. Beberapa anak lain yang sempat kutanya diluar kelas pun ternyata terpapar kebiasaan yang sama, tidak tergerak mencari informasi yang relevan untuk hidupnya plus tidak paham apa yang sedang ditontonnya. Sulit mendengarkan instruksi sederhana dan tidak fokus membaca meskipun hanya beberapa paragraf saja. Jika mereka memang suka nonton video, saat kuajak nonton video pembelajaran dan film dokumenter beserta pertanyaan pemantik untuk berdiskusi mereka juga tidak merespon seperti seharusnya? Pikiranku sibuk merefleksi pembelajaranku selama ini.
Hari itu aku mengeluarkan banyak kartu dari tasku. Flash Card bertuliskan aneka istilah dalam Sistem Syaraf Manusia beserta charta peta konsep di papan tulis. “Hari ini kita akan pelajari bersama Sistem Syaraf dalam tubuh kita. Tapi kalian harus baca dulu materinya…”. Lalu kami membuat kesepakatan belajar tentang Flash Card itu. Selebihnya kuminta mereka untuk share, think and pair mengemukakan hasil bacaan mereka bersama pasangannya. Apa yang terjadi? Ternyata hasil bacaan dari buku dan sumber lain yang mereka bisa cari dengan gawainya justru didominasi oleh tools yang menurutku di fase ini justru meracuni. Chat GPT. Plek ketiplek tanpa memasukkan referensi apapun lagi.
Sebenarnya ingin sekali aku menganalisa gejala ini dan berusaha mencari solusinya, tapi yang kubutuhkan adalah refresh sejenak sebelum memasuki kelas selanjutnya. Meskipun hanya dengan melakukan rutinitas harian biasa. Membaca. Jika tidak sempat membaca buku ya apapun yang online dan menurutku penting untuk kutahu. Fyp hari itu, Brain Rot. Tertulis di beberapa media sosial dan media online yang biasanya kubaca. Seketika menarik perhatianku karena relate dengan fenomena yang ada.
“Kata brainrot diumumkan menjadi Word of The Year 2024 oleh Oxford University Press. Istilah ini menjadi topik yang mendapat perhatian tahun 2024 lantaran dampak penggunaan media sosial yang semakin mengenaskan. Brainrot atau “pembusukan otak” adalah istilah yang menggambarkan suatu kegemaran yang berlebihan atau obsesi terhadap konten digital hingga menyebabkan “pembusukan” otak. Brainrot ini muncul akibat seseorang yang mengkonsumsi konten digital berkualitas rendah atau receh secara berlebihan yang menyerang Gen Z dan generasi setelahnya.
Lanjut baca, semakin paham apa yang terjadi pada anak-anak ini, bukan hanya di kelas, tapi bahkan juga anakku sendiri. Semakin kubaca, semakin aku tahu akibatnya begitu ngeri. Pelemahan otak dan daya pikir yang membuat pengguna media sosial malas berpikir berat. Aku teringat begitu susahnya menemukan siswa yang mau diajak ikut karya ilmiah atau olimpiade sains. Teringat susahnya membuat mereka sekedar mau membaca dulu agar mereka paham bagaimana memahami materi, melakukan koneksi dengan kehidupan sehari-hari atau hanya agar kelas kami bisa aktif saat sesi diskusi dan presentasi.
Pertemuan selanjutnya, pada kegiatan inti aku langsung membagikan kepada mereka bahan bacaan pendek. Game membaca. Gawai mereka aku minta untuk dikumpulkan di meja depan. Tentu saja, milikku juga. Kami lesehan di lantai kelas, melingkar membawa lembar bacaan materi Penyakit dan kelainan Sistem Syaraf yang mempengaruhi Sistem Gerak beserta teknologinya. Beberapa siswa terlihat tidak tertarik dan malas melepas gawainya. Aku harus meyakinkan mereka bahwa sesi tanpa gawai hanya 45-60 menit saja sesuai dengan kesepakatan kami. Dan bahwa aku tidak ingin tahu isi gawainya atau apapun didalamnya, maka agar semua tidak terganggu dengan itu gawainya di silent saja.
Game itu hanya game sederhana untuk bergiliran membaca, bertanya dan menjawab. Semua dapat giliran berbicara dan mendengarkan, pendapat siapapun diperhatikan, sesuai dengan giliran. Sesi 1, beberapa siswa membaca lembar bacaan yang dibawanya. Sesi 2, beberapa siswa aku tunjuk acak untuk bertanya. Sesi 3, sesi bebas. Beberapa siswa angkat tangan meskipun ragu-ragu. Menjelaskan bahan bacaan yang mereka bawa dengan bahasanya sendiri, meskipun masih dengan satu atau dua kalimat pendek. Bahkan Randi, siswa pendiam pembuka pintu itu juga. Membaca penjelasan yang tertulis di lembar bacaan miliknya. Skor yang terpampang dan stiker buatan sendiri yang kuberikan cukup ampuh meramaikan suasana.
Pada sesi refleksi kami saling bertutur tentang pembelajaran hari itu. Aku sedikit menceritakan tentang Brain Rot yang kubaca. Memberikan wawasan tentang Kesadaran Diri dan Manajemen Diri memanfaatkan waktu secara lebih produktif. Sesederhana menyisihkan 10-20% waktu untuk menonton konten edukasi dan pengembangan diri. Sesederhana biasa berbagi tontonan inspiratif antar teman seperti terbiasanya mereka mabar game online.
Menjelang 60 menit game berjalan tak terasa, beberapa siswa mulai gelisah. Aku paham, beberapa mereka kesulitan untuk berpisah dengan gawainya terlalu lama. Hari itu, aku juga paham bahwa teknologi bukan untuk dimusuhi tapi untuk ditata kembali agar bisa mengembangkan potensi manusia. Bukan justru melemahkan dan membunuhnya. Aku mengakhiri pembelajaran hari itu. Salah satu siswa mengangkat tangan dan bertanya,
“Bu, apa menggunakan chat GPT untuk mengerjakan tugas tidak diperbolehkan?”
“Boleh. Tapi ada tehniknya. Namanya prompting. Kita bisa memandu chat GPT membantu kita membuat karya. Minggu depan kita akan mempelajarinya bersama…”
Aku tidak anti pada teknologi, tapi Brain Rot ini harus diperangi.
Memang baru dimulai, tapi literasi adalah tentang kebiasaan dan konsistensi.