Senin, 20 Desember 2021

PUJAAN HATI

Apa sih yang ada di otakmu tentangku??? Kenapa sulit sekali bagimu bilang cinta aku?? Tidakkah kau tahu aku menunggu? dan waktuku tidaklah sebanyak itu...

May menuliskan itu di baris pertama, sekaligus macet meneruskan lanjutannya. Agenda tunggalnya sore ini adalah membalas surat Gibran. Tidak ada yang lain. Karena selepas maghrib dia ada janji temu dengan Alin, sesama vokalis sopran di paduan suara fakultas. Besok agendanya full dari pagi sampai sore, sebagian besarnya adalah mengerjakan pembahasan praktikum yang membutuhkan banyak waktu untuk membaca aneka literatur dan keharusan untuk ditulis tangan. Tapi hanya kalimat itu yang tertulis. 

Ingin sekali May bilang betapa ia merindukan Gibran, memikirkannya sebagai seorang wanita yang telah tumbuh dewasa dan membutuhkan seorang pria yang akan mendampingi hidupnya. Bukan lagi gadis kecil yang hanya berani memandangnya dari kejauhan, lalu diam-diam menyimpannya dalam doa dan harapan. Tapi menyatakan apa yang ada di pikiran tentang perasaan tidaklah sama dengan mempresentasikan makalah evolusi dan bioteknologi yang rawan adu argumentasi, juga tidak semudah mengaktualisasikan program pelatihan untuk adik-adik tingkatnya di teater yang bisa secara terprogram dilakukan. Ini adalah keterampilan yang lainnya lagi. Dan terasa jauh terkunci dalam otaknya. Tidak tahu kenapa.

Usai sholat maghrib May langsung berangkat ke pujasera area kosabra yang menyajikan aneka masakan nusantara. Favoritnya dan Alin dengan alasan yang sangat sederhana. Jus buahnya enak. Senyumnya langsung mengembang lebar menyaksikan sahabatnya itu telah duduk manis menghadap notes kecil dengan jus tomat kesukaannya. May memesan jus alpukat tanpa es dengan sedikit gula sebelum ikut duduk disana.

"Katamu jadwal pementasan padat hingga akhir bulan, kok hari gini bisa sesantai ini" May berkomentar panjang teringat pertemuan terakhirnya dengan Alin.

"Ada hal yang lebih penting untuk kamu tahu May. Kamu masih inget Andre yang pernah aku ceritain itu, yang kami ldr an hampir 4 tahun sampai sekarang? Kemarin dia nemuin aku usai pementasan, bilang cinta sama aku, dan dia mau wisuda semester depan. Aku berasa bahagia banget, serasa hidupku lengkap saat akhirnya bertemu dia May. Aku..." Alin bercerita panjang dengan mata berbinar. 

"Stop dulu Alin...trus, ini mas Dewa mau dikemanain? Kamu pasti ga bilang ke Andre kalo kamu sudah tuker cincin?" May memegang tangan Alin pelan, melihat lurus kearahnya. Meminta penjelasan. Membuat wajah Alin mendung seketika.

"Aku tahu kamu bisa bantuin May...kamu kan sudah pernah ketemu papaku, kamu juga orangnya sangat obyektif menilai persoalan, teman-teman bisa mengandalkanmu mengatasi konflik dalam banyak program, kamu pasti bisa meyakinkan papa bahwa Andre pria terbaik yang aku cintai dan aku tunggu sejak lama. Gimana May...bisa kan?" raut wajahnya separuh cemas separuh berharap. May urung menyeruput jus alpukatnya yang tadi terlihat sangat menggoda.

"Alin...iya aku bisa menghandle persoalan itu, karena yang dibahas adalah organisasi dan program, bukan begini caranya menyelesaikan persoalan, aku juga sebenarnya kurang paham dengan aneka dinamika ldr an meskipun hampir 7 tahun aku saling berkirim kabar dengan Gibran. Apalagi tentang menjaga perasaan. Coba pikirkan harapan dan kepercayaan papamu pada Mas Dewa, termasuk juga perasaan Mas Dewa sendiri yang sudah berapa bulan ini ngejagain kamu. Apa kamu tahu apa yang dipikirkan seorang ayah saat melihat putrinya didatangi cowok ke rumah? ada pertarungan di matanya, menuntut pria yang datang itu harus lebih baik daripada dia, melindungi dan menjaga" May bertutur panjang lebar menjelaskan.

"May, apa kamu berharap Gibran akan bilang cinta sama kamu? klo dia nggak bilang, apa kamu mau duluan bilang ke dia? mana ada cowok yang mau bercerita apapun buatmu berkirim surat hampir tiap minggu kalo ga cinta sama kamu?" Alin yang terbiasa spontan tak sempat memprediksikan dampak dari pertanyaannya. May tersedak tepat di tegukan pertama. Membuat Alin spontan minta maaf. Membuat mereka kompak bekerjasama mencari tisu membereskan sebagian minuman yang tertumpah di meja. Untuk kali pertama mereka tertawa bersama menyadari kelucuan yang baru saja tercipta.

"Kamu bikin aku pusing Alin, aku ga kompeten menjadi konsultan orang pacaran berikut segala dinamikanya"

"Aku juga baru tahu, sahabatku ini sedang jatuh cinta. Ini jauh lebih penting daripada urusanku sebenarnya. Eh, gimana pertanyaanku tadi, misalnya si Gibran itu ga juga bilang cinta ke kamu, apa kamu mau aku bantu bilang ke dia? Aku berpotensi untuk memanipulasi pemikiran orang lain lewat aktingku. Kamu pernah bilang gitu saat aku ikut latihan bersama di sanggar"

"Enggak" May menjawab pendek. Wajahnya berubah serius dengan cepat.

"Persahabatan kami jauh lebih berharga daripada jika harus beresiko rusak hanya gegara aku bilang cinta dan ternyata dia tidak" 

"Tapi bisa jadi dia memang cinta kamu dan tidak bisa mengatakannya kan May, kamu ga mau mengambil kesempatan itu?" Alin masih berusaha meyakinkan sahabatnya. Sesaat sunyi. 

"Aku akan membantumu, meyakinkan papamu, tapi...Andre harus datang menemui papamu. Itu pertarungan para pria yang harus dihadapi antar mereka. Dan, aku tidak bisa menjamin ini akan berhasil. Kesempatan yang kupunya kupersembahkan buatmu. Banyak novel sastra bilang, kekuatan cinta dan kekuatan doa seringkali tidak terduga bukan?" May tersenyum lembut memandang sahabatnya. Selarik bintang jatuh berkelebat di angkasa. Melangitkan harapan yang hanya dapat didengar oleh pikiran mereka masing-masing.

Sumber Video: Jawa Pos SMA Awards 2021-Story Telling-SMA Negeri 8 Kediri pada channel youtube SMAN 8 KEDIRI TV

#Teaser: Bendera Kata

Sabtu, 18 Desember 2021

INTERFASE

Sore hari at weekend adalah adalah sore yang istimewa, boleh biarkan semuanya ga ada schedulenya ga ada deadlinenya ga ada salahnya. 

Sore hari bersama rinai gerimis, bersama laptop tapi bukan untuk pekerjaan
Hanya ingin menuliskan apa saja meskipun saat menuliskan ini tidak tahu akan menulis apa

Sebenarnya banyak sekali yang berseliweran liar di otak untuk dituliskan. Perjalanan ke Bandung pas hari guru, main ke Museum Geologi yang saat itu baru dibuka belum lagi seminggu, acara Gerak Pena 2021, hingga yang terbaru outbond Jurang Senggani. Belum lagi rencana untuk melanjutkan merintis gerakan literasi di sekolah yang sudah kumulai semester ini dan apalagi ya...banyak pokoknya. Tapi, biarlah dulu mereka semua menunggu

Sore hari ditemani kopi susu dan tahu goreng hangat
Eh, nggak ding...saya mengganti kopi susunya dengan segelas lemon hangat campur madu, karena sesore ini klo kaki menyentuh lantai rasanya dingin sekali hingga harus pake kaos kaki. Saya takzim menunggu petang di ruang makan yang juga terdapat meja kerja karena disitulah ruangan yang lampunya paling terang bersebelahan dengan area dapur. 
     
Tidak melakukan apa-apa bukan berarti tidak menghasilkan apa-apa. Seperti interfase diantara pembelahan mitosis yang terbagi menjadi tiga fase penting sebelum pembelahan terjadi. Fase G1 selnya tumbuh membesar, fase S mensintesis salinan DNA dan duplikasi sentrosom dan fase G2 pertumbuhan lanjut serta pembentukan protein dan organel. setelah semua proses penting itulah, pembelahan sel bisa terjadi. Amat sangat sibuk sekali bukan sebenarnya selnya pada fase "diam" ini? Materi biologi di sekolah hanya menshoot proses pembelahan selnya karena disitulah perubahan dan gerakan kromosom jelas terlihat, lebih terlihat ajaib dan indah jika diamati langsung melalui mikroskop elektron.

Dan disinilai saya sekarang. Interfase. Tunggu dulu. Diam dulu. Tenang dulu. Pilih yang terpenting. Klo perlu harus ghosting. Point of viewnya saya simpan, untuk nanti. 

Hari ini tadi saya berenang. Itu terapi terbaik bagi saya untuk melatih pernafasan sekaligus menjaga optimalnya kapasitas paru-paru. Saya menikmati prosesnya yang harus berhenti berkali-kali terengah dan mulai lagi sebelum mampu menempuh jalur panjang kolam renang dewasa dalam sekali jalan. Airnya jernih menyegarkan. Kolam renang di pelosok kampung yang dikelola oleh pondok tahfidz. Berbarengan dengan itu saya menikmati pemandangan lain, anak-anak pondok yang hilir mudik mempersiapkan acara untuk esok hari. Perpulangan Santri menjelang liburan akhir semester. Mereka memfungsikan area antara kolam renang dewasa dan anak-anak yang lumayan lapang sebagai aula. Saya sempat ngobrol dengan salah satu dari mereka, alumni anak silat Perisai Diri yang dulu rutin latihan ke rumah. Pangling saat ketemu karena yang saya lihat adalah seorang gadis setinggi saya dengan gamis panjang, jubah lebar dan bermasker. Berubah banyak dari gadis kecil usia sekolah dasar yang dulu saya kenal.

Sepulangnya dari sana, usai sholat dhuhur saya tidur. Ini juga aktifitas interfase yang penting. Saya lebih banyak tidur dua tiga hari belakangan ini. Bahkan saat sebenarnya saya ga pengen. Mungkin semacam recharge yang saya butuhkan setelah beberapa hari insomnia. Juga kesempatan bagi otak saya refresh dari seluruh ide-ide yang dan deadline pekerjaan yang kadang sulit saya sinkronkan. Semoga besok saya sudah bisa sedikit pemanasan memeriksa kembali tugas anak-anak kelas biologi, biar bisa full speed di hari senin. Semoga...

Esok pagi entah mendung cerah atau hujan akan selalu ada yang menyapa bumi setiap hari, menjaga kehidupannya dalam time schedule yang presisi, itulah janji matahari

(Foto: Dok.Pribadi@Buper Jurang Senggani Jatim)

Selasa, 26 Oktober 2021

DOWNLOAD MODUL BELAJAR KEMDIKBUD: VIRUS

Virus merupakan organisme patogen yang hanya dapat melakukan replikasi dalam sel makhluk hidup. Virus memiliki struktur yang sangat sederhana dan tidak memiliki organel. Pada umumnya struktur virus terdiri dari asam nukleat yang terbungkus kapisid. Virus dapat menginfeksi hewan, tumbuhan, manusia, hingga bakteri.

BENTUK VIRUS


REPRODUKSI VIRUS

Reproduksi virus dapat dilakukan secara litik dan lisogenik


Selengkapnya materi virus dapat dipelajari pada modul berikut:


Modul virus dapat didownload DISINI

Senin, 11 Oktober 2021

DANDELION

rumpang semua doa ta terbaca oleh semua harap yang ta lagi kutahu ada atau tiada 

tapi tetap bayangmu menjadi rimbun bebunga yang ta kutahu namanya, 
mewangi indah memabukkan

jika orang baru bisa menulis setelah membaca, membaca, membaca
aku baru mengerti setelah jatuh cinta 
ternyata harus sepaket dengan siap kehilangan juga

membiarkan pergi agar menemukan jalan pulang
melepaskan semua rencana agar tahu ternyata ta satupun yang benar-benar mampu kita rencanakan

menjelma rahvayana yang tegap membatu 
jika perasaan ini salah, mengapa Kau bangun begitu megah

...

Pic.: Vertical Garden at San Diego

Senin, 27 September 2021

Catatan Pendek Kisah yang Panjang

jadi mungkin,
kira-kira cinta itu begini
kau punya jaket mahal dan bagus yang merknya terkenal
tapi kau masih saja pake jaketmu yang berwarna pudar
karena dialah yang telah jauh menemani perjalanan
melindungimu dari dingin dan hujan 
menjagamu dari angin malam
dengan siklus cuci kering pakai tak beraturan
yang ta dapat lagi dihitung dengan jari kaki dan tangan
tapi jaket itu selalu membuatmu nyaman

Angin berhembus sepoi mengirimkan sejuk. Langit semburat lembut mengirimkan sinarnya yang keemasan. Embun berkilauan di ujung rumput yang bergoyang. Wangi khas hutan ditingkah kicau burung yang saling membangunkan. Pagi sedang berpesta bersama sinar matahari pertama.

May menatap Gibran dari kejauhan. Pemuda itu memandang luas daratan lembah yang membentang jauh. Garis wajahnya yang tegas tergambar jelas dari tempatnya berdiri. Tanah tempat mereka berdiri berhias pohon yang sedang bertunas meriah dengan ujung ranting penuh tunas baru. Tempat itu terasa tidak asing. Embun rerumputan membasuh lembut kakinya yang kini basah. Langkah kakinya terayun mendekat.

Sepasang kupu-kupu berwarna biru beterbangan disekitarnya. Lembah itu kini sempurna bermandikan sinar mentari. Hangat memanjakan. Saat Gibran menoleh padanya, wajah itu sempurna mengarahkan pandang padanya. Tatapannya lembut dan dalam. Membuatnya ingin tinggal didalamnya, sekaligus membuatnya berdiri tegak menghentikan langkah. Menunduk mengalihkan pandang. Sebelum seluruhnya lenyap.
...

Tirai jendela kamar May separuh terbuka. Sinar matahari menerobos masuk membuat kamarnya yang penuh dengan aneka kertas jadi hangat. Suara kesibukan pagi khas anak kos membuatnya kesadarannya pulih dengan cepat. Semalam dia tertidur hampir jam 2 pagi. Membaca buku biometri yang sulit sekali merasuk ke otaknya karena dia tidak terlalu suka matematika. Berusaha membalas surat Gibran, meskipun sama sekali tak ada ide harus menuliskan apa.

Otaknya yang telah terbangun sempurna membuat May spontan melihat ke dinding. Agendanya hari itu. Jam 8 dia harus menemui petugas laboran mengecek ketersediaan alat bahan praktikum yang kemarin dipesan. Setelah itu ada kuliah pagi. Menengok sanggar teater siapa tahu ada surat masuk. Jam 11 siang ke kantor pos mengirimkan surat buat Gibran dan menemui adek tingkatnya untuk koordinasi diklat alam. Sorenya ada jadwal latihan yang akan menyibukkannya hingga malam. Andai saja surat itu sudah jadi, tapi...May belum menuliskan apapun sama sekali. Meskipun otak dan hatinya tak lagi bisa diajak kompromi. Mengingat Gibran selalu membuatnya terasa lengkap dan full energi. Entah kenapa.

#Teaser: Bendera Kata

Selasa, 21 September 2021

Hujan Tidak Selalu Romantis

Ruang perpustakaan itu lengang, dengan rinai hujan diluar ruangan terasa tenang menghanyutkan. May takzim memandang rinai hujan dari kursi baca tempatnya duduk sejak satu jam lalu. Menghabiskan waktu di perpustakaan adalah favoritnya. Membaca apa saja. Literatur untuk membahas laporan praktikum, buku tentang lingkungan, kekayaan alam, vegetasi negeri-negeri jauh, hingga esai sastra, naskah drama, antologi puisi atau sekedar mengelilingi seluruh rak membuat list buku apa saja yang pengen dibawa pulang untuk dibaca di kamar kosan di akhir pekan.

May mendesah nafasnya pelan. Baru hari rabu, laporan praktikumnya masih kurang dua lagi yang belum teratasi. List programnya di teater juga menunggu realisasi. Berusaha fokus menyelesaikan semua tugas satu persatu. Tapi justru yang menginvasi relung pikiran adalah dia lagi, batas anomali dunia nyata dan dunia mimpi. Huff...

...

Sejenak teringat percakapannya dengan mbak Alvin, yang sengaja datang ke kamar kosnya semalam. 

"May, keluar yuk. Aq kenalin temanku anak tehnik. Anak teater juga lho kayaknya cocok sama kamu"

Alvin kakak kosnya, kuliah tehnik bangunan satu tingkat diatasnya. May seringkali menganggapnya sebagai kakak sendiri. Sebagai sesama mahasiswa yang jauh dari orangtua, Alvin teman ngobrol yang menyenangkan. Sering juga mereka latihan bareng paduan suara di aula kampus, juga latihan nyanyi berdua sambil santai di pojok teras kosan, di kamar Alvin atau di kamar May hingga pernah juga  sambil duduk di atap lantai satu yang bisa dipanjat dari balkon lantai dua.

"Aku masih mau lanjutin bikin script tata lampu latihan bersama nih mbak. tanggung. besok akunya mau ke perpustakaan cari literatur laporan praktikum fisiologi hewan"

"Nah, justru itu. Dia terampil dalam tata lampu pementasan. Kalian bisa ngobrolin itu sambil temani kita makan. Rame-rame kok. Aku juga mau rundingan tugas kelompok. ga enak kalo ceweknya cuma aku sementara mereka bertiga"

Benar saja. Brian namanya. Sejak pertama bertemu matanya bersinar ramah, lincah menjelaskan ketertrikannya pada seni pertunjukan, juga dasar-dasar konsep tata lampu pementasan. Brian juga yang memperbaiki draft buatan May dari stage pertama hingga stage terakhir. Mereka terlihat akrab ngobrol bersama mencomot sembarang topik apa saja, karena ternyata Brian juga suka ngendon di perpustakaan. Rak buku sastra. Pelariannya saat tugas melanda dan dia sedang butuh refresh sejenak. Obrolan kami melompat kesana kemari diselingi candaannya yang lucu. Sepertinya sebagian besar anak tehnik diluar tugas kuliah yang serius, mereka sangat tahu bagaimana melepaskan sejenak keseriusan mereka.

Hampir pukul 9 malam saat May dan Alvin pulang ke kosan. Batas jam malam buat kosan putri. Alvin langsung nyelonong masuk ke kamar dan duduk di ranjang. Garis wajahnya yang dewasa menatap May serius. Hening sejenak. May beranjak pelan menyusul duduk di ranjang. Candaan lepasnya di perjalanan pulang seakan telah menguap entah kemana.

"May...sebenarnya aku ga pengen ikut campur urusan pribadi. Tapi kurasa sudah waktunya kamu deket sama pria yang nyata, yang bener-bener ada, bisa menjadi teman ngobrol berbagi cerita, bertukar pikiran, ide dan bisa jadi tentang impian masa depan. Jangan dijadikan beban, ini cuma saran. Aku juga paham kamu ga bakalan mau dengan segala macam jenis dan varian apapun gagasan tentang pacaran"

May mengatupkan bibirnya pelan. Urung bicara. Lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa. Karenanya Alvin segera berpamitan kembali ke kamarnya sendiri. Meninggalkan jejak pertanyaan yang menggantung di langit-langit kamar. May menatap aneka kertas kecil berwarna di dinding kamarnya. Agendanya besok pagi. Ada yang tak pernah lepas dari dinding itu. Kertas kecil berwarna biru muda dengan hiasan glitter berwarna bertuliskan "Balesin Surat Gibran"

....

Rinai hujan diluar perpustakaan kian menderas. Membuat konsentrasinya beralih pada kertas HVS putih yang baru terisi separuh. Surat buat Gibran. Bagian penting dari agenda hariannya. Bercerita tanpa suara. Menyampaikan perasaan lewat tulisannya. Menikmati anomali yang sering membuatnya terkunci dalam dunianya sendiri. May dan Gibran. Jika saja bisa menuliskan rindu, tapi yang tertulis justru cerita tentang teater yang akan merealisasikan program latihan alam. Jika saja bisa menuliskan pengen ketemu, tapi yang tertulis justru sulitnya cari bahan praktikum morfologi tumbuhan. Urusan tentang Gibran selalu membuatnya terasa rumit dan butuh lebih banyak waktu. Entah kenapa. Sepertinya laporannya harus ditangguhkan hingga malam nanti. May sudah terbiasa mengatur jam tidur seminimal mungkin dan tetap produktif sepanjang hari.

Setengah jam kemudian, hujan terlihat mereda. May membereskan buku-bukunya di meja, melipat kembali kertas HVS putih yang kini sudah terisi penuh. Meninggalkan beberapa buku yang tidak jadi dipinjamnya. Mendung masih bergayut mengantar dingin, langkah kakinya terhenti saat matanya tertumbuk pada seraut wajah yang tersenyum ramah. Brian...

#Teaser: Bendera Kata

Jumat, 17 September 2021

SEMANGAT PAGI SEMANGAT KEMBALI KE SEKOLAH LAGI

Setahun lebih pandemi bagi para guru berarti setahun lebih para guru mengajar berteman laptop dan foto-foto hasil kerja siswa dengan segenap suka dukanya. Ada kalanya saya membaca hasil kerja siswa di Google Classroom dengan tulisan rapi, kualitas foto yang baik dengan penalaran yang runut dan penomoran yang urut. Tapi banyak juga yang tulisannya cukup "unik" sehingga butuh sedikit usaha ekstra untuk membacanya, ditambah dengan kualitas foto kurang bagus. Adakalanya sampai jauh malam saya harus membalas chat mereka yang bertanya tentang materi, tugas ataupun sekedar sharing hasil praktikumnya yang "tidak sesuai dengan di buku" dan bagaimana membahasnya dalam laporan. 

Setelah setahun lebih pandemi dengan kesibukan mengajar online dan aneka pekerjaan WFH atau WFO, saat bertemu siswa kembali didalam kelas untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa saya benar-benar kangen mengajar lagi. Jadi, setelah mengingatkan tentang protokol kesehatan (membawa masker cadangan, bawa hand sanitizer sendiri, cara pake hand sanitizer di tempat umum dan SOP PTM) saya mengabsen mereka satu persatu dengan memanggil nama lengkap dan menatap mereka saat mengacungkan tangan. Mungkin hanya separuh wajah yang telihat karena mereka semua memakai masker, bahkan saya pun memakai masker dan face shield. Tapi saya benar-benar menikmati saat-saat itu. Akhirnya, kami bisa belajar bersama lagi didalam kelas.

Saya sangat beruntung karena hari itu, 13 September 2021 kelas pertama saya mengajar adalah anak wali saya sendiri. Meskipun hanya setengah dari jumlah siswa (itupun ada 3 yang ijin) saya berkesempatan bertemu anak wali saya. Sebelum materi pembelajaran dimulai, kami bisa berbagi tanggungjawab capaian akademis yang harus mereka tempuh dan sedikit bercerita pentingnya kerjasama antara sekolah, mereka dan orangtua mereka dalam mencapai itu. Itulah mengapa saya cukup intens memberikan informasi di grup walimurid tentang dukungan orangtua/walimurid yang diperlukan maupun menghubungi langsung orangtua mereka jika ada laporan kendala pembelajaran dari guru pengajar.

Pembelajaran di kelas saya isi dengan review dan pendalaman materi berdasarkan indikator pencapaian kompetensi yang telah saya tentukan. Saya fokus pada materi yang biasanya sulit saya jelaskan secara online, misalnya pengaruh hormon pertumbuhan, respirasi aerob serta hubungan antara metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Apa cukup waktunya? memang tidak jika saya harus jelaskan detail satu persatu. Tapi saya sangat terbantu karena mereka memegang buku penunjang yang telah dipinjamkan dari perpustakaan. Saya membahas materi dari buku itu, sambil memberikan sedikit wawasan tentang cara belajar agar mereka dapat mempelajarinya kembali dengan lebih mudah jika materi itu tidak tuntas kami bahas didalam kelas. Sehari sebelumnya, saya menugaskan mereka untuk membawa buku tugas biologi, buku penunjang, buku kerja siswa dan print out lembar kerja dari Google Classroom. Buku kerja siswa dan buku tugas mereka dikumpulkan saat PTM selesai untuk saya koreksi. Sedangkan buku penunjang mereka bawa kembali untuk mengerjakan lembar kerja dari GC. Lembar kerja inilah yang akan kami bahas pada PTM minggu depan. 

Lima menit sebelum jam KBM usai, saya sempatkan sharing tentang pentingnya membaca. Karena itulah kita mengenal pepatah buku adalah jendela dunia. Itulah mengapa pemerintah kita giat menggaungkan literasi dan numerasi. Bahkan di blog ini, yang sering saya bagikan pada mereka sebagai bahan belajar pada bagian paling atas tertulis "Berbagi Nutrisi Literasi: Saling Belajar Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat". Menularkan kesenangan belajar yang saya alami, passion yang kita dalami dengan senang hati. Ketertarikan membaca dan belajar apa saja baik untuk mengerjakan tugas sekolah maupun dalam memecahkan permasalahan sehari-hari. Apalagi generasi milenial sangat terfasilitasi dengan mudah untuk mengakses beragam e-book yang gratis, yang murmer maupun yang mahal berbayar. Sayang banget jika yang kita baca cuma facebook, ig dan chat WA.

Usai mengajar saya menatap seluruh penjuru kelas.  Ruangan kelas yang merindukan para siswa segera kembali. Dindingnya pun mungkin juga kangen ditempeli nama pengurus kelas dan hasil karya siswa beserta hiruk pikuk proses pembuatannya. Saya membayangkan 2 tahun lalu saya menugaskan siswa membuat poster pelestarian keanekaragaman hayati. Cerita behind the scene mereka sampe lesehan di kelas sepulang sekolah dengan aneka guntingan kertas demi bisa memamerkan hasil karyanya di dinding kelas dan mempresentasikannya dalam salah satu sesi model pembelajaran market place activity. Demikianlah, sepertinya minggu ini selain mengajar bagi saya adalah sesi untuk melepas rindu. Belum lagi saat saya mengumpulkan pekerjaan mereka di kelas, mata saya terasa segar karena yang saya pegang adalah hasil pekerjaan riil yang bisa saya coreti apa kelebihan dan kekurangannya. Bukan foto hasil kerja mereka yang kadang tidak jelas pencahayaan maupun kualitas fotonya.

Saya menyadari, saya aja yang guru ada pasang surutnya agak moody menyelesaikan tugas saya jika terus-terusan online. Apalagi siswa yang sebagian besar belum cukup stabil menangani pengaruh lingkungan, arus informasi dan media sosial yang setiap saat berseliweran. Saya aja yang sangat menikmati me time dan family time at weekend berasa seneng banget ruang guru kembali rame dengan teman-teman yang mengenakan seragam dan saling berbagi pengalaman mengajar di kelas. Semoga badai pandemi ini sudah benar-benar berhenti dan sekolah kita bisa lebih hidup dengan lebih banyak ide dan inovasi baik di kelas maupun diluar kelas. Semoga.


"Pelajaran sekolah bukanlah guidebook untuk dapat kerja, tapi bahwa semua pelajaran akan memberikan value tentang wawasan keilmuan, pembentukan pola pikir, problem solving hingga pendidikan karakter tentang tanggungjawab, disiplin, integritas dan kemandirian akan sangat kita perlukan dalam dunia kerja"
_Wahidah Qomariyah_

Foto: Dok. Pribadi @Griffith Observatory Los Angeles