Jumat, 08 September 2023

2.3.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

Durasi: 2 JP

Moda: Tugas mandiri (asinkron)

Tujuan Pembelajaran Khusus:

CGP menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 2 dalam berbagai media

·         Bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?

Materi pembelajaran dalam Modul 2.3 yaitu tentang konsep coaching secara umum dan konsep coaching dalam konteks pendidikan sebagai pendekatan pengembangan kometensi diri dan rekan sejawat. Modul ini juga memberikan pemahaman tentang paradigma berpikir coaching yaitu fokus pada coachee/rekan yang dikembangkan, bersikap terbuka an ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, mampu melihat peluang baru dan masa depan; dan prinsip coaching yaitu kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi. Hal menarik dan paling menyenangkan dalam modul ini adalah praktik percakapan coaching dengan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan TAnggungjawab) yang secara langsung melatih saya untuk memiliki 3 kompetensi inti coaching yaitu presence (kehadiran penuh, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot. Saya juga merasa termotivasi untuk mengembangkan kompetensi coaching dalam menavigasi tujuan dan arah percakapan yang dibutuhkan coachee dengan menggunakan berbagai acuan interaksi (untuk perencanaan, pemecahan masalah, berefleksi maupun untuk kalibrasi).

Emosi-emosi yang saya rasakan terkait pengalaman belajar adalah senang dan bersemangat karena materi ini sangat menarik dan menantang, perasaan empati saat berlatih berinteraksi dengan coachee dalam percakapan coaching serta antusias bahwa keterampilan coaching yang dimiliki oleh guru dapat membantu teman sejawat dalam memaksimalkan potensi pribadi dan professionalnya serta membantu murid dalam meningkatkan potensi pribadi dan prestasi akademiknya. Keterlibatan saya yag sudah baik dalam proses belajar adalah saya mampu mempelajari keseluruhan modul dengan baik dan dapat bekerjasama dengan teman sejawat dalam berlatih mengembangkan kompetensi coaching. Hal yang masih perlu saya tingkatkan adalah berlatih keterampilan coaching dalam supervisi akademik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran terhadap teman sejawat. Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi adalah bahwa pemahaman saya terhadap modul ini memberikan saya pandangan yang berbeda bahwasanya keterampilan coaching tidak hanya perlu dimiliki oleh guru BP/BK tetapi juga penting untuk dipahami dan diterapkan oleh semua guru.

Sekolah sebagai tempat bagi siswa untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensinya, sedangkan guru dapat membantu siswa dalam pengembangan diri mereka baik sebagai coach, mentor, konselor, fasilitator maupun trainer. Peran saya sebagai coach di sekolah bagi siswa adalah membantu siswa mencapai tujuan belajarnya, misalnya saat siswa mengalami kesulitan belajar, saat siswa memerlukan untuk mengembangkan penelitian untuk perlombaan Karya Ilmiah Remaja (KIR) saya dapat membantu mereka mengembangkan ide penelitiannya dalam perencanaan maupun pelaksanaannya melalui percakapan coaching. Saya juga dapat lebih memahami dan menyelesaikan dengan baik permasalahan KSE yang muncul didalam kelas misalnya pada saat siswa berbagi tugas tentang perlombaan antar kelas sebagai peserta maupun tim pendukung. Secara pribadi, siswa juga dapat memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola emosi, menjaga hubungan suportif antar teman sebaya maupun mengembangkan kepercayaan dirinya melalui percakapan coaching.

Implementasi keterampilan coaching juga dapat membantu saya dalam tercapainya pembelajaran berdifferensiasi, dimana penekatan pembelajaran ini berusaha memperhatikan dan memenuhi kebutuhan individual siswa dalam belajar. Bagaimana peran saya sebagai coach dalam hal ini? Coach dapat membantu rekan sejawat dalam mengembangkan strategi pembelajaran berdifferensiasi yang sesuai dengan kebutuhan siswa dikelasnya melalui percakapan coaching karena karakteristik setiap kelas dan permasalahan yang terjadi di kelas dan dihadapi oleh guru di kelasnya juga sangat beragam. Dalam hal ini, melalui komunitas Coach Penggerak KOlaborasi Pemikiran Inovatif (CORAK KOPI), sebagai coach saya dapat membantu guru lain untuk dapat mempersiapkan pembelajaran di kelasnya melalui percakapan coaching sehingga coachee menemukan solusi berupa pengembangan bahan ajar yang berdifferensiasi di kelasnya.

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) sangat diperlukan oleh siwa dalam mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat serta mengambil keputusan yang tepat dan bertanggungjawab dalam hidupnya. Pembelajaran ini melatihkan aspek Kesadaran Diri, Manajemen Diri, Kesadaran Sosial, Keterampilan Beelasi serta Pengambilan keputusan yag bertanggungjawab. Peran saya sebagai coach adalah membantu siswa dalam mengembangkan KSE secara eksplisit, terintegrasi dalam pembelajaran secara terstruktur dan berkelanjutan. Sebagai coach saya dapat membantu siswa dalam mengidentifikasi emosi dan perasaan mereka, membangun hubungan yang sehat dan positif dengan teman sebaya, mengembangkan keterampilan mengatasi konflik. Sebagai coach saya juga bekerjasama dengan guru lain untuk mengembangkan program PSE yang terintegrasi dengan kurikulum dan saat ini sedang diterapkan yaitu dalam pembelajaran projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Bangunlah Jiwa dan Raganya: Be Happy, Be Healthy. Pada masa mendatang, sebagai coach saya juga dapat bekerjasama dengan guru lain yang bertugas sebagai Pembina OSIS agar program PSE dapat dilatihkan kepada siswa pada saat Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).

·         Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin  pembelajaran?

Keterampilan coaching dapat membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa agar dapat mengembangkan strategi pembelajaran berdifferensiasi yang tepat, mengarahkan siswa dalam pemecahan masalah serta mengembangkan KSE siswa di kelas maupun diluar kelas. Beberapa keterampilan coaching yang dibutuhkan sebagai pemimpin pembelajaran yaitu mengembangkan keterampilan dan potensi anggota tim, membangun hubungan positif untuk meningkatkan kinerja tim, serta kemampuan dalam mengatasi konflik dan menyelesaikan permasalahan secara efektif. Sebagai pemimpin pembelajaran berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya maupun di kelas lain dengan bekerjasama dengan guru lain baik secara pribadi maupun dalam komunitas CORAK KOPI yang telah dibentuk. Peningkatan kualitas pembelajaran juga bekerjasama dengan kurikulum agar pelaksanaan supervisi akademik juga dapat diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru melalui percakapan coaching.

Analisis implementasi dalam konteks Calon Guru Penggerak

Tantangan yang dihadapi sebagai seorang coach dan calon guru penggerak baik di tingkat sekolah maupun daerah adalah motivasi dan konsistensi. Motivasi diri yang kuat untuk terus tergerak, bergerak dan menggerakkan orang lain sangat diperlukan dalam menjaga konsistensi peningkatan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid. Motivasi ini juga diperlukan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran berdifferensiasi, pembelajaran sosial emosional dan coaching untuk supervisi akademik. Alternatif solusi yang dapat dilakukan adalah dengan terus belajar untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar muri, menyenangkan dan bermakna; berupaya menjadi teladan serta berkolaborasi dengan teman sejawat dalam komunitas CORAK KOPI. Selain itu, sebagai coach guru juga dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung dengan memberikan umpan balik yang konstruktif bagi setiap pencapaian serta permasalahan yang terjadi.

Membuat keterhubungan Materi

Sebelum mempelajari teknik coaching, saya hanya fokus pada pengembangan strategi pembelajaran berdifferensiasi untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga saat menghadapi permasalahan terkait pembelajaran maupun KSE saya langsung memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh siswa maupun guru yang bertukar pikiran engan saya terkait pembelajaran di kelasnya. Setelah mempelajari teknik coaching, saya lebih terampil dalam memahami kebutuhan belajar siswa dan berusaha melakukan percakapan coaching untuk membantu siswa maupun guru menemukan solusi yang tepat terhadap permasalahan yang timbul. Selain itu, dengan teknik coaching, saya dapat menjadi lebih efektif dalam membangun hubungan yang positif dengan siswa, yang dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa dalam belajar. Selain itu, teknik coaching juga dapat membantu saya untuk membangun lingkungan kelas yang lebih positif dan berdiferensiasi, yang memungkinkan siswa dengan berbagai kebutuhan belajar untuk berkembang dengan cara yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Rabu, 06 September 2023

TANTANGAN DAN HARAPAN: PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Urgensi Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. 

dalam fase Mulai dari Diri guru diajak untuk merefleksikan hubungan kompetensi sosial dan emosional dengan peran Anda sebagai pendidik dan dengan pembelajaran murid karena dalam penelitian tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional: 

• Guru yang memiliki kompetensi sosial dan emosional yang baik lebih efektif dan cenderung lebih tangguh dan merasa nyaman di kelas karena mereka dapat bekerja lebih baik dengan murid. 

• Adanya keterkaitan antara kecakapan sosial dan emosional yang diukur ketika TK dan hasil ketika dewasa di bidang pendidikan, pekerjaan, aktivitas kriminal, dan kesehatan mental.

Penjelasan tentang Pembelajaran Sosial Emosional berdasarkan kerangka CASEL yang bertujuan mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: 

1. Kesadaran diri, yaitu Kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan.

2. Manajemen diri, yaitu Kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi.

3. Kesadaran sosial, yaitu Kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda.

4. Keterampilan berelasi, Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif.

5. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, yaitu Kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok.

Penjelasan tentang kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar dalam penguatan 5 (lima) Kompetensi Sosial Emosional (KSE). 

Empat indikator dalam implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah, yaitu: 

1. Pengajaran eksplisit, yaitu Murid memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan, melatih, dan merefleksikan kompetensi sosial dan emosional dengan cara yang sesuai dan responsif dengan perkembangan budaya

2. Integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik, yaitu Tujuan Kompetensi Sosial dan Emosional diintegrasikan ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, musik, seni, dan pendidikan jasmani.

3. Penciptaan iklim kelas dan dan budaya sekolah, yaitu Lingkungan belajar di seluruh sekolah dan kelas mendukung pengembangan kompetensi sosial dan emosional, responsif secara budaya, dan berfokus pada upaya membangun hubungan dan komunitas

Penguatan PSE Pembelajaran Sosial dan Emosional pendidik dan tenaga kependidikan (pendidik dan tenaga kependidikan) dapat dilakukan dengan adanya kesempatan  yang teratur untuk mengembangkan kompetensi sosial dan, emosional, dan budaya yang dimiliki serta berkolaborasi satu sama lain serta membangun hubungan saling percaya, dan memelihara komunitas yang erat.

dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:

1. 

Selasa, 01 Agustus 2023

MODUL 1.4: DEMONSTRASI KONTEKSTUAL SEGITIGA RESTITUSI

Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. 

Hal yang menarik bagi saya adalah dengan memahami disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi kita dapat memahami siswa dengan lebih baik dan lebih bijak dalam mengambil sikap pada saat mereka melanggar peraturan. Siswa juga lebih mampu meningkatkan regulasi dirinya dalam bersikap terhadap orang lain baik teman maupun guru dan warga sekolah yang lain.

Berikut skenario Segitiga Restitusi yang diterapkan di sekolah ketika murid melakukan pelanggaran yang memuat 3 sisi yang direkomendasikan. Segitiga restitusi terdiri dari 3 sisi yaitu:

  • Menstabilkan identitas (kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan)
  • Validasi tindakan yang salah (semua perilaku meiliki alasan)
  • Menanyakan Keyakinan (kita semua memiliki motivasi internal)

KASUS 1

Kelas telah selesai melakukan praktikum Biologi. Seperti biasa semua kelompok membersihkan meja praktik dan mengembalikan alat yang telah selesai digunakan ke meja paling depan. Bagas tidak mengikuti sesi bersih-bersih karena langsung menuju kantin.

Bagas

:

Assalamualaikum

Bu Wahidah

:

Waalaikumsalam wr. wb.

Siahkan masuk. Selamat siang Bagas

Bagas

:

Selamat siang bu

Bu Wahidah

:

Apa kabar?

Bagas

:

Alhamdulillah, baik dan sehat bu

Bu Wahidah

:

Bagas saya panggil kesini karena tadi saya lihat Bagas langsung keluar laboratorium ya begitu selesai praktikum?

Bagas

:

Iya bu, soalnya tadi pagi saya belum sempat sarapan, makanya selesai praktikum saya langsung buru-buru ke kantin.

Bu Wahidah

:

Ada lagi yang Bagas ingin sampaikan ke Bu Wahidah?

Bagas

:

Di laboratorium kan sudah ada petugasnya bu, siswanya tinggal praktikum saja

Bu Wahidah

:

Baiklah, jadi begini Bagas…memang di laboratorium sudah ada petugasnya, kemudian Bagas ke kantin setelah praktikum sebenarnya boleh-boleh saja. Tetapi ketika kelompok kerja belum selesai dan Bagas pergi ke kantin kelompok kerja ini jadi terlambat menyelesaikan tugasnya.

Bagas

:

Iya bu…

Bu Wahidah

:

Sekarang, mari kita bicara tentang keyakinan kelas kita. Kira-kira menurut Bagas, apa yang sudah kita sepakati sebagai keyakinan kelas dan hari ini belum ditunjukkan oleh Bagas?

Bagas

:

(terdiam sejenak) saling bekerjasama bu

Bu Wahidah

:

Iya betul, Jadi kelompok kerja itu dibentuk agar bisa saling bekerjasama satu sama lain. Setelah kita berbincang seperti ini, kalau tadi Bagas langsung pergi ke kantin pada sesi bersih-bersih dan mengembalikan alat berarti apakah Bagas merasa sudah mempraktikkan nilai kerjasama?

Bagas

:

Saya rasa sudah bu?

Bu Wahidah

:

Sudah apa belum?

Bagas

:

Belum bu

Bu Wahidah

:

Kalau belum, berarti kira-kira menurut Bagas apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki permasalahan ini?

Bagas

:

Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi bu, dan saya akan minta maaf pada teman-teman kelompok saya.

Bu Wahidah

:

Itu saja?

Bagas

:

Apa ya bu? Setelah saya minta maaf, saya juga akan membantu teman sekelompok saya untuk mengerjakan laporan praktikum dan presentasi. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi bu

Bu Wahidah

:

Nah, itu gagasan yang bagus sekali. Jadi karena dalam kelompok kerja itu harus saling bekerjasama satu sama lain, maka harus bekerja dalam tim sampai dengan seluruh tugas selesai dikerjakan.   

Bagas

:

Baik bu

Bu Wahidah

:

Saya mengapresiasi Bagas suah mengakui kesalahannya dan bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jadi, orang yang hebat itu akan terus tumbuh menjadi lebih baik dengan terus memperbaiki diri. Begitu ya…

Bagas

;

Baik bu

 

Bu Wahidah

:

Sekarang Bagas boleh kembali ke kelas dan lakukan yang disampaikan tadi ya

Bagas

:

Terima kasih bu

Bu Wahidah

:

Selamat belajar ya

Bagas

:

Assalamualaikum

Bu Wahidah

:

Waalaikumsalam wr. wb.


KASUS 2
Kelas sedang melakukan prakikum Biologi. Semua kelompok sedang sibuk melakukan praktikum dan memotret hasilnya untuk dijadikan laporan kelompok. Setelah memotret hasil praktikum Anin asyik berfoto selfi menggunakan handphone dan tidak sengaja menjatuhkan lup hingga pecah. Bu Wahidah memanggil Anin setelah praktikum selesai.

Anin

:

Assalamualaikum

Bu Wahidah

:

Waalaikumsalam wr. wb.

Anin

:

Selamat Siang Bu

Bu Wahidah

:

Selamat siang. Silahkan duduk Anin

Anin

:

Iya bu

Bu Wahidah

:

Apa kabar?

Anin

 

Baik bu

Bu Wahidah

:

Anin, saat praktikum Biologi bu Wahidah dengar kamu Anin memecahkan lup ya?

Anin

:

Iya bu, tadi saya ingin berfoto selfi untuk mengunggahnya di sosial media dengan hasil pengamatan saya, tapi tanpa sengaja menjatuhkan lupnya bu

Bu Wahidah

:

Baiklah, berfoto selfi itu sebenarnya boleh-boleh saja. Bu Wahidah juga suka berfoto selfi, nanti kadang-kadang hasilnya saya unggah di blog pribadi sambil belajar menulis artikel. Anin saya panggil kesii bukan untuk menyalahkan.

Tapi, kita akan mencari solusi bersama atas permasalahan ini

Anin

:

Iya bu, saya minta maaf bu…

Bu Wahidah

:

Bu Wahidah paham pasti sangat menyenangkan kalau teman-temanmu melihat di sosial media hasil praktikumnya Anin itu bagus dan belajar Biologi itu menyenangkan. Tapi Anin jadi merugikan orang lain, karena lup yang seharusnya dipakai untuk kelompok terjatuh dan pecah, kemudian teman-temannya menjadi ramai setelah itu.

Anin

:

Iya bu, besok saya mau minta maaf pada teman-teman dan mengganti lupnya bu, trus saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Bu Wahidah

:

Sebelum itu, kita kan diawal pembelajaran suah menyepakati tentang keyakinan kelas ya. Sekarang, menurut Anin keyakinan kelas mana yang belum Anin tunjukkan hari ini?

Anin

:

(terdiam sejenak) Saling menghormati bu

Bu Wahidah

:

Iya betul. Jadi kita harus menghormati antar teman, didalam kelas saat kita praktikum bersama alat an fasilitas laboratorium kita jaga bersama. Begitu ya Anin…

Bu Wahidah

:

Baiklah, permohonan maafmu sudah saya terima, sekarang kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya dan lakukan seperti yang telah kamu sampaikan tadi ya

Anin

:

Iya bu

Bu Wahidah

:

Nanti jika kelompokmu belum selesai praktikum, Bu Wahidah siap membantu

Anin

:

Baik bu Wahidah. Terima kasih atas bantuannya

Bu Wahidah

:

Sudah ya, silahkan kembali ke kelas.

Anin

:

Terima kasih bu

Assalamualaikum

Bu Wahidah

:

Waalaikumsalam wr. wb.

 

Berikut link praktik segitiga restitusi yang telah dilaksanakan:


"Semoga Bermanfaat"

Jumat, 28 Juli 2023

DISIPLIN POSITIF: ANTARA TANTANGAN DAN HARAPAN

 “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. 

 (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)

Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Konsep disiplin positif inilah yang merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif yang kita cita-citakan di sekolah-sekolah kita.

Motivasi perilaku manusia dapat dibagi menjadi 3 yaitu: 1) untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman yang merupakan motivasi terendah dan bersifat eksternal; 2) untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain; 3) untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Motivasi ketiga inilah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.

Membangkitkan motivasi intrinsik dapat dilakukan dengan mengaitkan perilaku maupun peraturan yang dibuat untuk murid dengan nilai kebajikan universal. Nilai kebajikan universal merupakan Nilai kebajikan universal adalah sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Nilai tersebut bersifat universal dan lintas bahasa, suku bangsa, agama maupun latar belakang. Nilai tersebut misalnya Sikap murid meliputi toleransi, rasa hormat, integritas, mandiri, menghargai, antusias, empati, keingintahuan, kreativitas, kerjasama, percaya diri dan komitmen. Sembilan pilar karakter seperti Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab.

Nilai kebajikan yang ingin dicapai oleh setiap anak Indonesia kita kenal sebagai Profil Pelajar Pancasila yang terdiri dari 6 dimensi yaitu Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, bernalar kiritis, mandiri dan kreatif. Nilai kebajikan universal akan mendasari perilaku dan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Motivasi intrinsik ini juga dapat dilatihkan didalam kelas pembelajaran melalui keyakinan kelas. Keyakinan kelas yang memuat nilai-nilai kebajikan universal, dibuat dan disepakati oleh kelas untuk membangkitkan motivasi intrinsik dalam menjalankannya. Motivasi instrinsik membentuk disiplin positif di sekolah. Seseorang akan lebih tergerak untuk memotivasi dari dalam daripada sekedar mengikui peraturan. Keyakinan kelas berupa pernyataan universal, positif dan dapat diterapkan bersama. Pada awal tahun ajaran baru dapat didedikasikan untuk pendalaman keyakinan kelas dalam berbagai kegiatan. Keyakinan kelas dapat ditinjau kembali jika diperlukan dan jika terjadi pelanggaran dapat dilakukan pendekatan Segitiga Restitusi.

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid. berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

Praktik Segitiga Restitusi tersedia dalam tautan berikut: 

https://www.youtube.com/watch?v=9ccCq5JnuBA

Sebagai refleksi, bahwasannya:

  1. Pentingnya pemahaman tentang kebutuhan dasar, motivasi, keyakinan, posisi kontrol dan restitusi yang saling berkaitan dan konsisten diterapkan agar terwujud budaya positif yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak.
  2. Penerapan Budaya Positif sangat diperlukan untuk mendasari pembelajaran murid dan seluruh warga sekolah, agar bisa menjadi bagian dari masyarakat yang baik dan mengikuti nilai-nilai kebajikan.
Artikel ini merupakan bagian dari Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif yang tersedia dalam video berikut:


Minggu, 16 Juli 2023

WAWASAN WIYATA MANDALA DAN PEMBELAJARAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

 

Materi Wawasan Wiyata Mandala merupakan pandangan atau sikap hidup terhadap sekolah sebagai lingkungan pendidikan. Materi ini dipadukan dengan Profil Pelajar Pancasila dan Pembelajaran Berwawasan Lingkungan untuk memberikan wawasan secara komprehensif kepada siswa. 

Materi ini disampaikan sebagai materi MPLS di SMA Negeri 8 Kediri pada:
1. Senin, 17 Mei 2023 
2. Senin, 15 Juli 2024

Sebelum memahami Wawasan Wiyata Mandala di sekolah, kita cermati dulu VISI MISI SEKOLAH dan Mars SMADELA kita yuk...

Mars SMADELA

SMA Delapan kita kupuja senantiasa
Tempat menempa budidaya yang tak kan terlupa
Kekal dikau di hati membawa panji negeri
Cerdaskan putra dan putri dengan hati nan suci

Smadela loka amukti setya
Smadela harapan kita semua
Smadela cipta insan Pancasila.........
Smadela tak kan ku lupa


Apa hubungannya dengan Wawasan Wiyata Mandala ya...


"Impian besar dapat terwujud dengan konsisten menghidupi hal-hal kecil yang mendukungnya"
(Wahidah Qomariyah)

Minggu, 02 Juli 2023

CORAK KOPI: AKSI NYATA MODUL 1.2

CORAK KOPI adalah hasil ruang kolaborasi Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak yang disusun oleh Trio AsiQ yaitu Ika Agustina (TK Dharma Wanita Pakunden II), Susilowati (SMP Negeri 7 Kediri) dan Wahidah Qomariyah (SMA Negeri 8 Kediri).

Perwujudan nilai dan peran Guru Penggerak yang kolaboratif demi terlaksananya pembelajaran yag berpihak pada murid, maka tim kami membuat program kegiatan CORAK KOPI. Program CORAK KOPI merupakan akronim dari COach penggeRAK KOlaborasi Pemikiran Inovatif. Program ini bertujuan sebagai tempat saling berbagi ide untuk mendesain pembelajaran yang berpihak pada murid, mendorong kolaborasi sekaligus merintis para pemimpin pembelajaran di sekolah dan menumbuhkan dan menghidupkan komunitas praktisi di sekolah.

Langkah pelaksanaan program CORAK KOPI terdiri dari: Melakukan refleksi secara mandiri dan melakukan kolaborasi dengan kepala sekolah maupun rekan guru; Mengumpulkan ide-ide; Menyusun strategi pembelajaran, Mengimplementasikan strategi pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang didesain diarahkan sebagai kegiatan yang lebih berpihak pada murid, misalnya edugame, pembelajaran diluar kelas dan pembelajaran literasi yang menyenangkan bagi siswa.

Hambatan dalam program ini adalah memulai kolaborasi dalam forum bersama (tidak semua guru bersedia untuk berkontribusi) dan banyaknya kegiatan guru setelah selesai mengajar sehingga membuat kurangnya komunikasi dengan rekan sejawat. Solusinya adalah memulai perubahan positif dari diri sendiri, melakukan komunikasi dengan baik untuk memulai kolaborasi an membangun empati tentang pelaksanaan pembelajaran di sekolah agar lebih berpihak pada murid.