Senin, 19 September 2022

GERAK PENA: BERKARYA BERSAMA SISWA

 


Kelas terasa lengang, dalam sehari hanya separuh yang dapat bertemu langsung didalam kelas. Apalagi yang dapat dilakukan? ini masih pandemi. Terasa canggung ternyata, saat pertama bertemu kelas yang sejak awal masuk sekolah ini hanya bisa saya temui dari google meet atau chat WA. Anak-anak memandang saya dengan canggung, menanti instruksi, sebagian lagi masih sibuk dengan gawainya. Saya memilih cara yang paling konvensional, mengabsen mereka satu persatu dan memandangnya baik-baik. Saya perlu mengenal mereka lebih dulu sebelum bisa mengajar dengan lebih baik daripada kelas online yang biasanya lebih dominan interaksi searah. Lagipula ini saat yang saya nantikan, bisa bertemu langsung dengan mereka.

Pembelajaran yang saya rancang blended learning mengharuskan saya membagi konsentrasi antara yang belajar di rumah dan yang kini sedang saya hadapi. Pandemi ini benar-benar menuntut kami memutar otak, berinovasi mencari cara mengajar yang efektif dan menyenangkan ditengah pembelajaran daring yang mulai terasa menjemukan. Kenapa? Karena yang saya hadapi saat daring adalah laptop dengan aneka agenda mengajar daring melalui Google Classroom maupun Google Meet. Hasil kerja mereka hanya bisa saya koreksi dengan laptop. Ada kalanya saya membaca hasil kerja siswa di GC dengan tulisan rapi, kualitas foto yang baik dengan penalaran yang runut dan penomoran yang urut. Tapi banyak juga yang tulisannya cukup "unik" sehingga butuh sedikit usaha ekstra untuk membacanya, ditambah dengan kualitas foto kurang bagus. Adakalanya sampai jauh malam saya harus membalas chat mereka yang bertanya tentang materi, tugas ataupun sekedar sharing hasil praktikumnya yang "tidak sesuai dengan di buku" dan bagaimana membahasnya dalam laporan. 

Maka saat mengajar luring benar-benar menjadi saat yang saya rindukan. Usai sesi perkenalan, apersepsi dan motivasi saya mulai beraksi. Menjelaskan LKS yang telah saya share di grup WA dan memberikan ruang bagi mereka untuk bertanya dan saling berdiskusi. Bahkan LKS yang saya buat dirancang secara terstruktur menjelaskan langkah demi langkah penelitian kecil tentang Kingdom Plantae serupa modul sehingga mereka dapat bekerja secara mandiri di alam. Saya menugaskan mereka menginstal aplikasi PlantNet untuk mengidentifikasi gambar organ tumbuhan berupa bunga, buah, daun dan kulit kayu serta menggunakan aplikasi itu untuk mengidentifikasi tumbuhan di sekolah secara langsung.

Sesi pengamatan membuat saya mengamati banyak hal diantara kesibukan saya mengisi lembar observasi pelaksanaan pembelajaran. Berada diluar ruangan respons mereka sangat beragam. Ada yang masih malu-malu berinteraksi dengan teman dan guru, ada yang sudah sangat heboh menceritakan hasil temuannya pada temannya, ada yang langsung mencari saya menunjukkan hasil pengamatan yang separuh jadi. Semangat dan antusiasme mereka saat mengambil foto, saling berbagi temuan tumbuhan yang mereka amati, saling memberikan solusi pada teman yang belum terampil menggunakan PlantNet serasa turut memberikan saya semangat dan antusiasme yang sama.

Sehari kemudian saya membuka google form tempat mereka mengirimkan laporan. Hampir sebagian besar nama siswa telah terpampang disana. Sehari berikutnya hanpir semua siswa telah tuntas mengerjakan tugasnya. Tapi itu belum apa-apa. Ketika saya membacanya satu persatu, aneka identifikasi tumbuhan berdasarkan hasil pengamatan, hasil identifikasi dari aplikasi hingga identifikasi dari website sesuai instruksi pada LKS terpampang rapi. Aneka tanaman di sekolah seperti Ruellia simplex, Sansevieria trafasciata Prain, Jatropha podagrica, Codiaeum variegatum,  Bougainvillea spectabilis  dan banyak lagi, hingga beberapa spesies tumbuhan yang mereka amati di rumah telah teridentifikasi dengan baik. Sebagian masih perlu dibenahi, tapi sebagian lagi, bahkan sudah lebih baik daripada yang sudah saya paparkan dalam presentasi.

Pada even Hari Guru Nasional 2021 saya menuliskan pembelajaran ini dalam Best Practice artikel inovasi pembelajaran IPA yang bertajuk Gerak Pena 2021 (Gelar Karya Pendidik Sains Indonesia) yang diselenggarakan oleh P4TKIPA dengan proses seleksi terbuka karya guru se-Indonesia. Bahagia dan bangga rasanya saat karya itu lolos seleksi. Mepetnya undangan yang didapat secara online membuat saya harus bekerja luar biasa sebelum bisa berangkat. Menghubungi cabang Dinas Pendidikan mengurus Surat Tugas, merancang X-Banner, finalisasi draft presentasi yang harus sudah terkirim online, mencari tiket kereta hingga Rapid Test antigen saya lakukan dalam sehari menjelang hari H. Ini adalah kali pertama even peringatan HGN kembali dilaksanakan luring pasca pandemi. Total 20 guru Biologi, 20 guru Fisika, 20 Guru Kimia, 20 guru IPA SD dan 40 guru IPA SMP diundang dalam perhelatan itu. Sehari sebelum peringatan HGN 2021, saya berangkat ke Bandung.

Dalam even itulah saya menyadari, saya tidak sendiri. Seratus dua puluh guru yang diundang kesini, dengan inovasi dan perjuangannya berada dalam acara ini sedang berada dalam misi yang sama, mempersempit jarak learning loss dan realita yang sedang melanda. Saya mengedari ruangan membaca satu persatu karya mereka di sepanjang pinggir hall tempat walking gallery dalam jajaran X-Banner berwarna warni. Bahkan dalam ruang presentasi kelas Biologi, kami berkesempatan saling presentasi memaparkan inovasi yang telah kami lakukan dalam pembelajaran beserta lika liku pembelajaran daring, luring hingga blended learning dengan segala dinamikanya. Saya memegang map piagam usai berfoto bersama dengan berkaca-kaca saat membaca tulisannya. Piagam Penghargaan sebagai peserta Gelar Karya Pendidik Sains Indonesia bagi Guru Biologi jenjang SMA dengan tema Bergerak dengan Hati Pulihkan Pendidikan dalam rangka Hari Guru Nasional Tahun 2021.

Kembali ke sekolah lagi memberikan wacana baru bagi saya, pandemi ini telah merubah wajah pendidikan di negara kita. Semua terdampak, semua harus bertindak. Guru Merdeka Belajar dan terus bergerak mengatasi kondisi dan keterbatasan. Memodifikasi dan berinovasi dalam pembelajaran. Terus memperkaya wawasan dan  membuat perubahan positif mulai dari dirinya, dari kelasnya, dari siswanya. Begitulah semangat yang sama akan terus bersambungan membentuk jembatan, menjadikan harapan bahwa kita dapat bersatu bekerjasama mengejar ketinggalan.

Kini kelas telah penuh terisi, meskipun saya masih terus membawa pandemic kit (hand sanitizer, masker cadangan dan face shield), masih terus harus mengingatkan siswa protokol kesehatan, bersama harapan dan doa yang melangit mengangkasa, badai pandemi ini segera berlalu pergi, kelas akan kembali hidup dengan karya-karya siswa di dindingnya. Juga lebih banyak lagi inovasi pembelajaran yang bisa diterapkan, karena kita dan siswa kita telah cakap dan biasa menggunakan gawai dan aplikasinya, telah banyak tahu website tentang materi dan media pembelajaran. Peninggalan pandemi yang terus bisa kita ambil dan manfaatkan.

Note:

Cerpen ini telah dibukukan dalam buku Antologi Karya Cerpen yang berjudul "New Normal New Hope" yang berisi 20 karya terbaik dari guru dan orangtua jebolan finalis "Lomba Menulis Cerpen ROMO #4" SD Plus Rahmat Kota Kediri


Minggu, 18 September 2022

Seberang Angan

Siang dengan angin yang riuh dan kepala yang penuh memang seringkali secara instan membuat jenuh. May mengambil waktu sela diantara jam kuliahnya untuk mengambil istirahat. 

Perustakaan lagi...

Tempat paling nyaman memanjakan diri, walaupun tidak sepenuhnya benar

"Siang May, sibuk ya..." sapaan ramah dan akrab yang hampir sebulan ini menghiasi agendanya di perpustakaan

"Hai...enggak kok, cuma nulis surat"

"Hari gini? Nulis surat?" raut wajah Brian mengumbar heran tapi juga ingin tahu.

"Iya. Kami saling berkirim surat sejak lama. Surat itu, lebih humanis, lebih menyentuh, lebih artistik karena tulisan tangan dia bagus banget" 

"Dia mahasiswa sastra? atau jurusan seni?" langsung mengambil kursi berhadapan dengan May

"Bukan sih. Dia kerja. Dulu saat SMA jurusannya bahasa"

"Cowok ya?" 

" Iya. Eh, tadi katanya tadi Brian mau kasih aku sesuatu?" May tetiba teringat saat terakhir ketemu Brian kemarin sore.

Seketika Brian ingat coklat berpita merah yang semalam membuatnya tidak bisa tidur. Untuk May. Entah kenapa setelah perbincangan tadi Brian jadi ragu memberikannya. Hening sesaat. Brian menatap May yang memandang lurus ke arahnya. 

"Ehm, ...aku nemu esai yang menarik. Punya Leak. Nemu di rak buku lantai 2. Mungkin, sesekali kamu bisa baca yang agak sosiologi gitu..." Brian menjawab sekenanya.

"Kritik sosial? tema yang agak serius ya? tapi menarik juga sih...trus, kita mau apain? jadikan monolog, puisi, cerpen? mungkin kita memang cocok untuk bikin projek bersama" 

Jika sudah begini, obrolan akan terus mengalir kesana kemari dengan asyiknya. Jauh dari urusan tugas kuliah mereka. Jurusan sains dan jurusan tehnik yang sedang rehat dari dunianya. Obrolan terhenti saat May teringat sesuatu.

"Brian, hampir lupa. Aku juga mau kasih sesuatu ke kamu" May mengeluarkan coklat mete kesukaannya yang dibungkus kertas kado berpita ke Brian. Tersenyum memandang wajah Brian yang kini ekspresinya sulit diartikan.

"Ehm, jangan diketawain ya...Sebenarnya saat semalam teman-teman kos ngajak beli coklat valentine aku ga pengen sih. Buat apa? Buat siapa? tapi akhirnya aku beli 2. Satu lagi untuk bapak ibuk dirumah sih, tapi lagi ga pulang. Satu lagi buat Jun, sahabat seangkatan jurusan Biologi yang udah tak kasihkan dari habis subuh tadi"

"Trus, kok dikasih ke aku May...?"

"Ya, aku sayang ke ayah bundaku tiap hari meski tanpa coklat itu, jadi kukasih aja ke kamu, best partner that I have" 

Brian mematung berusaha tersenyum, teringat coklat berpita yang tetap tinggal di tas perpustakaan yang ia bawa. Mencerna senyum matahari yang ia lihat di wajah May saat menulis surat. Siapa cowok itu? Mereka sepasang kekasih? 

*Teaser: Bendera Kata


Rabu, 15 Juni 2022

TITANIC: Cerita Sore kepada Mama

Avicenna dan hasil karyanya (Kelas I MIN 3)

Kapal pesiar megah yang mengarungi samudera Atlantik dan menabrak gunung es. Saat kapal separuh tenggelam, para crewmate yang tidak dapat menyelamatkan diri telah meninggal karena tenggelam berhamburan keluar kapal dan menjadi tontonan para ikan. Sementara ada para crewmate yang masih bertahan di atas kapal menuju bagian kapal yang lebih tinggi.
Crewmate berkacamata hitam berteriak, "Tolong, tolong, tolong"
Sementara crewmate berambut punk menyahut, "percuma aja tidak ada siapa-siapa"
Pada bagian belakang kapal ada crewmate bermahkota dan crewmate berpita. Si berpita bertanya kepada koki, "kita terus makan apa?"
Si crewmate koki menjawab, "tidak tahu"
Sementara di ujung buritan ada seorang ibu yang sedang menjaga anaknya yang masih tertidur dan bergumam, "seharusnya hal ini tidak terjadi"

Lanjut ke bagian kanan, ada kapal yang lebih kecil berisi 3 crewmate sedang mengamati dan mencatat keadaan sambil mengobrol ringan.
"Hmmmm...." lagi mikir
"Kita makan apa sekarang"
"Makan ikan lah, kan ada ikan" 
(Mungkin 🤔 para crewmate di kapal ini bagian mitigasi bencana sub bagian logistik 🤭)

Lanjut ke bagian kiri gambar ada kapal crewmate berukuran sedang juga sedang mendekati Titanic. Mereka para crewmate bagian medis. Mulai dari ujung kiri ada crewmate yang bertugas mencatat kondisi pasien, sebelah kanannya ada 2 crewmate medis sedang merawat korban tenggelam dan sebelah kanannya lagi juga berlangsung kegiatan yang sama. Para crewmate medis ini juga dibantu oleh para dokter kecil yang sedang bersama mereka di bagian ujung kapal medis. Kapal ini sangat sibuk menyelamatkan dan merawat korban sehingga tidak ada satupun yang mengobrol.
Demikian cerita Titanic versi crewmate 🚢...

Note:
Crewmate adalah teman dalam game Among Us yang biasanya mendapatkan "Task" tertentu yang harus diselesaikan dalam permainan
#literasi pagi 📝05062022


Rabu, 08 Juni 2022

Literasi Digital dan Problem Solving?

Mendampingi si kecil saat menggambar merupakan pengalaman menantang sekaligus menyenangkan bagi saya. Awalnya saya prioritaskan saat weekend, tapi kemudian dia mulai "membajak" waktu istirahat saya sepulang kerja 🤭. Maka manalah tega mata sipitnya yang lucu menunggu jawaban apakah saya bersedia mendengarkan cerita bergambarnya di white board. Jadilah sore itu saya menjadi reporternya seperti biasa meskipun kadang tidak seluruhnya dapat saya rekam dengan baik.

Bukan sekali dua kali saya membelikannya buku gambar agar karyanya bisa didokumentasikan dengan lebih baik. Tapi dia selalu menolak dengan alasan, jika salah white board lebih mudah dihapus daripada di buku. Jadilah saya eksplor ke toko buku, mencari buku gambar yang kertasnya bagus dan penghapus pensil yang paling bagus dengan asumsi akan memudahkan dia menggambar dan menghapus. Anggaplah saya sedang belajar parenting ala problem solving dalam hal pengembangan bakat dan minatnya.

Tapi ternyata tidak semudah itu bestie...😋 karena kakaknya yang punya hp baru gegara hp lamanya rusak punya game baru. Otomatis dia terus nempel ke kakaknya dan merajuk ke saya minta diberikan lebih banyak waktu bermain HP. Saya mengijinkan, tapi saya juga menginstal aplikasi menggambar di HP saya yang biasa dia pakai dan langsung menarik perhatiannya. Aplikasi Ibis paint X dan Paintastic: draw, color, paint. Masalahnya, hampir semua aplikasi menggambar yang bagus menggunakan bahasa Inggris dan saya menduga dia akan banyak tanya ke saya tentang menu-menunya agar bisa memulai menggambar.

Tapi ternyata tidak...dia tidak bertanya ke saya, tapi ngobrol langsung bertanya ke... google assistant 📲 Rupanya dia juga mengembangkan "problem solving ala dia sendiri" saat saya tidak ada dan tidak bisa bertanya pada kakak maupun papanya. Ternyata anak-anak sangat luar biasa dalam beradaptasi dengan teknologi dan aplikasi baru yang bahkan baru mereka kenal. 

Dan inilah hasil karya dia pake Paintastic. Searah jarum jam mulai dari yang berwarna hijau itu adalah creeper, salah satu tokoh dalam game Minecraft. Sebelah kanan nya adalah crewmate dalam game Among Us. Lalu dibawahnya adalah kuyang (pembunuh stiff dalam game Among Us). Dan sebelah kirinya adalah foto berjudul keluarga.

Saat ini, karena matanya sedang sakit ketularan kakaknya, dia mulai tertarik dengan buku gambar yang saya belikan. Nanti jika saya "bertugas jadi reporter" lagi, sepertinya akan ada cerita baru berikutnya

#belajarmenulisbelajarberbagi 💝

#08062022

Senin, 09 Mei 2022

Mau Konsisten Menulis Tapi ...

 Penyakit banget itu sih...

Saya biasanya sudah gak pede dengan tulisan saya sendiri saat menjelang dipublish meskipun hanya sekedar pubish di blog pribadi yang nyaris ga punya konsekuensi

Apalah daya saya yang kadang jadi ga disiplin menulis manakala terserang virus liburan, pengen santai tanpa deadline apapun yang biasanya saya rencanakan dan eksekusi secara mandiri mulai dari hal kecil diluar urusan pekerjaan hingga project-project yang memang harus saya selesaikan

Resolusi?

Restart manage ulang skala prioritas deh kayaknya...

Mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang termudah

Semoga tidak ada godaan autofokus pada yang lain

Semoga jangan lagi takut ga bagus ato takut salah

Semoga ga kebayang takut gagal tulisannya ga selesai lalu idenya terbengkalai

Bukankah kata Buya Hamka:

"Jangan takut gagal karena orang yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah melangkah"

...

Foto: Dok.Pribadi @Sumber Complang, Plosoklaten Kediri
saat Enceng Gondok sedang melanda (27/12/2021)

Senin, 04 April 2022

Dear Gibran

Memang sudah biasa kita menunggu pak pos diakhir pekan membawa cerita tentang seminggu ini kita ngapain aja

juga sudah biasa sejak senin aku memasang agenda di list teratas bertuliskan "balesin surat gibran" karena setidaknya hari kamis surat itu harus sudah masuk kantor pos agar tepat sampai padamu di hari sabtu

jika aku sedang tak terlalu sibuk, surat itu bisa berupa tempelan macam-macam tulisan berwarna ta peduli tulisan tanganku ku tak terlalu punya estetika saat dibaca, kan yang penting ceritanya 

jika aku sibuk maka agenda tulis menulis itu cukuplah di kertas HVS putih yang kuletakkan diatas kertas folio bergaris agar tetap lurus meski tak ada garisnya, toh menulisnya bisa dimana saja diantara waktu luang disela jam kuliah ato saat menunggu waktu sholat sebelum latihan sore ato kapan saja sempat dan lalu finishingnya kuselesaikan malam harinya saat sendirian saja. 

tapi, ada kalanya otakku stuck ga ngerti harus nulis apa ato aktifitasku seharian itu memang ga ada cukup terluang waktu menuliskan cerita, jadilah seharian itu HVS putih yang terselip diantara folio bergaris yang kubawa kemana-mana tetap bersih hingga pulang ke kost lagi.

ceritanya? biasanya seputar kesibukan kuliah ato latihan teater ato paduan suara ato tentang keseharian ga penting lainnya. Padahal harusnya aku bilang jujur lagi kangen kamu, pengen kamu suatu hari nanti datang kesini, pengen kita bisa live ngobrol tentang apa saja, tapi ya gitu...rasanya otakku secara merdeka selalu kudeta mengemukakan hal lain-lainnya, menyisihkan segala hal tentang rasa yang akhirnya hanya kusimpan sendiri saja.

aku memang ribet dan perfeksionis jika tentangmu, berharap menjadi bidadari istimewa buatmu, sang putri yang hanya ingin dijemput kamu, meskipun aku selalu takut untuk tahu jika kenyataannya nanti ternyata aku bahkan bukan siapa-siapamu

aku menikmati tulisan apapun yang kau tuliskan dalam suratmu...puisi, cerita keseharian, urusan pekerjaan, musik kesukaan, kuis, game, tempelan gambar atau apapun itu namanya aku selalu menunggu, karena bisa jadi kau sedang sama sibuknya

Jadi begitulah, surat-surat kita semacam unprediction performance yang mengagumkan dengan rangkaian kisah suka duka aneka cerita didalamnya. Kelak kisah ini akan tetap mengagumkan, membanggakan, tetap indah untuk dikenang. Tak ada yang terucap untuk menegaskan apa yang harus terjadi, tapi aku yakin kita sama-sama tahu darimana kisah ini dimulai. Kita tak akan tahu dimana arahnya, tapi secara tersirat kita sama tahu terus akan mengalir menjalaninya. Kemanapun ujungnya...

Dokumentasi Pribadi @Ramayana Ballet Prambanan, Yogyakarta

#Teaser: Bendera Kata

Sabtu, 26 Maret 2022

Hari Teater Sedunia 2022: Refleksi Diri

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi 
@The Greek Theatre Griffith Park, Los Angeles, California, USA

27 Maret 2022, diperingati sebagai Hari Teater Sedunia. Pesan Internasional Hari Teater Sedunia yang pertama ditulis pada tahun 1962 di Helsinki Finlandia oleh Jean Cocteau (Perancis). Berarti, tahun ini adalah perayaan yang ke 60 tahun. Tahun ini, dilansir dari laman World Theatre Day, perayaan Hari Teater Sedunia tahun 2022 akan berlangsung pada tanggal 27 Maret 2022 secara online dan diselenggarakan oleh Pusat dan Sekretariat Jenderal Institut Teater Internasional (ITI). Peringatan ini menawarkan kepada seniman dan professional seni platform untuk bertukar ide dan menampilkan diri kepada dunia. Fokusnya adalah para kaum muda dan pendatang baru. Berikut kutipan lengkapnya

Sejak tahun 1962 Hari Teater Sedunia telah diperingati oleh Pusat ITI, Anggota Kerjasama ITI, professional teater, organisasi teater, universitas teater dan pecinta teater di seluruh dunia pada tanggal 27 Maret. Hari ini adalah perayaan bagi mereka yang dapat melihat nilai dan pentingnya seni bentuk “teater” dan bertindak sebagai panggilan untuk membangunkan pemerintah, politisi dan lembaga yang belum mengakui nilainya bagi rakyat dan Negara, individu yang belum menyadari potensinya untuk pertumbuhan ekonomi. https://www.world-theatre-day.org/

Wow banget kan ya…

Teater bagi orang sains seperti saya seperti oase di tengah sahara. Seperti sahara ditengah tropical forest yang evergreen sepanjang tahun. Semacam dunia kecil dengan keunikan dan karakternya sendiri.

Saya tidak langsung paham, saat saya yang masih SMA dan kedua orang tua saya melarang menekuni musik, kesenian dan juga teater. Bagi mereka, dunia hiburan tidak baik untuk perempuan. Secara garis besar, teater dan dunia pertunjukan bukan jaminan masa depan. Hingga praktis selama SMA hingga kuliah, saya ikut teater dengan sembunyi-sembunyi.

Secara pribadi, teater bagi saya semacam universitas kehidupan. Paket lengkap pengembangan karakter dan kepribadian. Menyalakan cahaya yang mewarnai keseharian. Integritas. Saya bersikukuh membuktikan, ikut teater tak semata membuat saya terpikat ketidakteraturan seperti yang dituduhkan. Menekuni teater dan dunia pertunjukan, tidak akan menurunkan skill dan kemampuan akademik perkuliahan. Maka yang saya lakukan, Menekuni teater di fakultas MIPA, rajin berlatih paduan suara, dan mempertajam seni tradisional di STK (Sanggar Tari Karawitan-Asri Kusuma) milik Universitas.

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi
@Sanggar Teater PRoSeS, sekitar tahun 1999

Kenyataannya, teater memberikan pengalaman luar biasa tentang kedisiplinan. Mengelola diklat anggota baru maupun diklat kepelatihan untuk kaderisasi. Berlatih intensif diantara kesibukan kuliah dan lebih intensif lagi menjelang pertunjukan. Totalitas dalam permainan. Menjadi koordinator kepelatihan, menjadi produser pertunjukan, menjadi tim hore angkat-angkat barang, hingga tim dapur umum meskipun saya saat itu tidak kompeten memasak sama sekali. Tim kerja yang bersinergi hingga berkolaborasi dengan komunitas lain maupun lingkungan. Hingga gesekan alamiah dalam latihan manajemen konflik yang digagas para senior yang membantu kami menyelesaikan dengan baik konflik sungguhan. 

Maka tak berbilang terima kasih saya kepada para guru dan senior maupun junior saya di teater. Spesial untuk Pak Nono yang memperkenalkan saya pada dunia teater. Mas Ans beserta para senior Teater PRoSeS FMIPA IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Lek Boss, begawan teater kota Malang yang telah berpulang (Al Fatihah) yang telah membuat saya banyak belajar dalam kepengurusan Forum Pengembangan Teater Sekolah (FPTS) saat itu. Juga seluruh alumni dan adik-adik Teater PRoSeS yang hingga kini tetap berasa keluarga.

Selamat Hari Teater Sedunia. 

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi
@Pantai Tamban Malang, Diklat Alam 2000 Teater PRoSeS