Selasa, 13 Juni 2023

Demonstrasi Kontekstual: Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

Gambaran aktivitas saya sebagai Guru Penggerak dalam 3 tahun mendatang yang dapat menggambarkan nilai-nilai Guru Penggerak (Berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif) dalam keseharian, terprogram rutin berkesinambungan maupun ad-hoc (khusus) adalah sebagai berikut:

1.      Berpihak pada murid

Sebagai Penggerak segala keputusan yang diambil harus didasari oleh semangat untuk memberdayakan dirinya serta memanfaatkan aset/kekuatan yang ada untuk menyediakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang positif serta berkualitas bagi muridnya.

Hal yang saya lakukan adalah:

-          Mendesain proses pembelajaran yang Berpihak pada Murid

-          Melaksanakan Asesmen Diagnostik

-          Melaksanakan pembelajaran Berdifferensiasi

2.      Mandiri

Nilai mandiri secara sederhana menggambarkan semangat Guru Penggerak untuk terus belajar sepanjang hayat sehingga terus termotivasi untuk mengembangkan dirinya tanpa harus menunggu adanya pelatihan yang ditugaskan oleh sekolah, dinas atau pihak lain.

Hal yang saya lakukan adalah:

-          Aktif dalam menumbuhkan dan menggerakkan komunitas praktisi di sekolah

-          Aktif membangun komunitas dalm forum MGMP

-          Aktif mengikuti kegiatan pengembangan profesi

3.      Reflektif

Model mental dimana Guru Penggerak senantiasa memaknai pengalaman yang terjadi di sekelilingnya baik terjadi pada diri sendiri maupun pihak lain secara positif-apresiatif-produktif. Guru yang memiliki nilai reflektif memiliki daya saing yang tinggi sehingga terus meningkatkan efikasi diri serta mendorong dirinya untuk memperbaiki kualitas kinerja dan hasil kerjanya. Guru Penggerak juga dapat mendorong perubahan diri yang sifatnya eksternal menuju penguatan diri yang bersifat internal.

Hal yang saya lakukan adalah:

-          Secara rutin melakukan refleksi secara mandiri

-          Memanfaatkan hasil refleksi dalam memperbaiki kualitas pembelajaran

-          Berperan aktif dalam supervisi pembelajaran

4.      Kolaboratif

Bahwa Guru Penggerak mampu senantiasa membangun daya sanding karena memperhatikan pentingnya ketergantungan positif terhadap seluruh pihak pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah (orangtua murid dan komunitas terkait) dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Hal yang saya lakukan adalah:

-          Kolaborasi dengan kepala sekolah, rekan sejawat dan orangtua murid dalam kegiatan sekolah

-          Membangun kolaborasi CORAK KOPI di sekolah

-          Memulai karya bersama inovasi pembelajaran di sekolah

5.      Inovatif

Guru Penggerak mampu memunculkan gagasan segar dan tepat guna yang mengisyaratkan penguatan semangat ko-kreasi (gotong royong) dan pemberdayaan aset/kekuatan yang ada di sekolah untuk mewujudkan visi bersama.

Hal yang saya lakukan adalah:

-          Aktif berbagi tulisan tentang pembelajaran di blog pribadi

-          Aktif berbagi aktifitas dan refleksi program CORAK KOPI

-          Aktif bekerjasama dengan perpustakaan SMA Negeri 8 Kediri untuk meningkatkan literasi

-          Aktif berperan dalam pengembangan program sekolah yang berdampak pada murid  


Jumat, 31 Maret 2023

Our Garden Moment: Revitalisasi Taman Kelas Berbasis Pembelajaran

Perubahan iklim menjadi isu utama dalam pembahasan permasalahan lingkungan karena secara langsung mengacu pada perubahan suhu lingkungan dan pola cuaca yang terjadi dalam jangka panjang. Perubahan iklim dapat dipengaruhi oleh alam, namun saat ini telah didominasi oleh aktivitas manusia terutama yang berkaitan dengan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas. Pembelajaran pada topik Perubahan Lingkungan dan Pemanasan Global dapat menjadi media yang efektif dalam memulai tindakan aktif untuk mencegah, memperlambat serta mengurangi pemanasan global serta dampaknya. Tentu saja, hal ini harus didukung oleh strategi pembelajaran yang tepat dalam membentuk pemahaman serta kesadaran siswa dalam berkontribusi positif terhadap permasalahan lingkungan disekitarnya.

Pembelajaran Biologi pada topik pemanasan global pada siklus pertama dilakukan dalam 3 pertemuan yaitu identifikasi pencemaran lingkungan serta identifikasi permasalahan lingkungan yang terjadi di lingkungan sekolah serta aksi nyata mencari solusi permasalahan lingkungan yang telah diidentifikasi. Tahap identifikasi pencemaran lingkungan dilakukan dengan menganalisa literatur yang relevan, mendiskusikan dengan kelompok kerja serta mempresentasikan didepan kelas.

Tahap identifikasi permasalahan lingkungan di sekolah dilakukan dengan mengajak siswa keluar kelas mengamati kondisi lingkungan sekolah serta melaporkan permasalahannya dalam bentuk foto, analisa permasalahan serta solusi yang diajukan untuk dipresentasikan didepan kelas secara individu. Tahap ini sangat menarik karena siswa secara langsung menemukan permasalahan yang terjadi disekitarnya serta mengajukan solusi yang sangat beragam sesuai dengan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki. Permasalahan yang diajukan secara umum meliputi pengelolaan sampah, taman sekolah, pencemaran udara dan sampah plastik dengan beragam solusinya.

Tahap selanjutnya adalah menganalisa permasalahan dan solusi serta merumuskan tindakan bersama sebagai aksi nyata. Aksi nyata yang dilakukan adalah Our Garden Moment yang bertajuk Tanaman Asuh. Setiap siswa bertanggungjawab menanam serta merawat tanaman asuh yang mereka tentukan sendiri sampai dengan akhir semester. Penentuan jenis tanaman yang bervariasi memungkinkan mereka mencari informasi dari sumber yang beragam tentang tanaman serta cara perawatannya untuk diterapkan pada tanaman yang dipilih. 

Karakteristik serta kondisi kelas juga menentukan kontribusi yang dapat dilakukan oleh kelas tersebut. Kelas yang memiliki taman kelas yaitu kelas X-3, X-4, X-5 menanam tanaman asuhnya dalam desain bersama taman depan kelas. Sedangkan kelas yang berada di lantai atas difokuskan pada propagasi tanaman, dimana mereka dapat menanam tanaman dalam pot atau polybag yang telah disediakan oleh guru. Tanaman yang dilakukan propagasi dapat dibawa sendiri atau dari pot tanaman hias di sekolah yang sudah penuh. Peralatan berkebun dibawa oleh siswa dari rumah pada saat penanaman dan sebagian lagi disediakan oleh guru.


Gb.1 Kelas X-5

Gb.2 Kelas X-4

Gb.3 Kelas X-10 dan X-2

Gb. 4 Kelas X-1 dan X-6

Gb. Kelas X-4

Membawa tanaman dari rumah telah dilakukan secara bertahap oleh siswa sejak awal Maret 2023. Untuk memperkuat kolaborasi, guru juga diberikan kesempatan untuk berkontribusi dengan membawa tanaman hias beserta media tanam dan diletakkan di taman depan ruang guru. Teladan baik ini turut serta memotivasi siswa untuk berlomba-lomba membawa tanaman juga. Walaupun tetap ada beberapa siswa yang terlambat atau tidak mengumpulkan tanaman hias sehingga diarahkan pada propagasi tanaman agar tetap memiliki tanaman asuh. 

Saat ini taman depan kelas X-3, X-4 dan X-5 telah memasuki tahap perawatan minggu pertama. Sedangkan hasil propagasi tanaman sejumlah sekitar 175 pot/polybag dari kelas X-1, X-2, X-6 dan X-10 tersebar di 5 titik di area sekolah untuk mempermudah perawatan. Selanjutnya, tanaman ini akan diserahkan kepada sekolah untuk peremajaan taman kelas yang lain.

Siklus kedua akan diisi dengan fenomena perubahan lingkungan, identifikasi kebiasaan sehari-hari yang ramah lingkungan serta aksi nyata gaya hidup berkelanjutan. Sampai jumpa pada siklus kedua ya...

Jumat, 24 Maret 2023

Perjalanan: Menikmati Menjadi Kita

Perjalanan bagi sebagian orang bisa jadi hanya rutinitas menuntaskan jarak. Jarak dari rumah ke tempat kerja, jarak dari tempat kerja lalu kembali pulang, berikut segala dinamika singgah dimana, membeli apa, ketemu siapadan berulang lagi setiap hari.

Perjalanan berkendara sendiri menjadikan saya lebih bersyukur dan mengerti, bahwa otak kita lebih canggih dari manusia cyber yang biasanya saya lihat di televisi. Semacam AI yang dengan cepat memproyeksikan medan, jarak, kecepatan, kemungkinan hambatan hingga survival mode saat ada hal-hal diluar dugaan. Saat kita memulai keluar rumah naik motor, mata kita akan langsung menerima stimulus dari kondisi jalan, keramaian, hingga posisi kendaraan lain yang berada di dekat kita. Otak akan langsung memproses dan menggabungkannya dengan pengalaman kita melalui jalan itu. 

Saya yang terbiasa taktis akan secara otomatis menghindari dan atau memposisikan berada didepan kendaraan lain yang saya anggap "berbahaya". Sebut saja, orang yang naik motor tanpa helm, orang yang pakai sandal jepit, orang yang kendaraannya ga lengkap mungkin plat atau spionnya, orang yang bawa "obrog bakulan", orang yang bawa rumput pakan ternak diatas kapasitas motor, atau sekedar ibu-ibu yang naik motor sambil gendong anak kecil. Ada? tentu saja. Sekitar jarak 15 hingga 17 kilometer jarak domisili saya di daerah kabupaten hingga kota tempat bekerja, pengendara seperti kriteria itu selalu tersedia. 

Pun juga jika jalan berdua si dia bisa beda cerita. Karena lelaki secara naluriah akan melindungi wanitanya, maka yang pertama dia lakukan adalah memastikan saya berada di posisi yang nyaman. Berdua naik motor sejarak Kediri-Malang akan menjadi perjalanan yang cukup panjang. Meskipun sudah sekian kali kami lakukan dengan tujuan yang sama, nyekar makam bapak ibuk Malang. Tapi, setiap perjalanan selalu memiliki kisahnya sendiri.

Mengisi perjalanan yang paling mudah adalah bercerita, random apa saja beralih ke berbagai topik keseharian, bekas longsoran area Ngantang dan Pujon, cafe dan tempat wisata baru yang belum pernah kami kunjungi, hingga pemandangan yang berganti-ganti dilewati. Berkeliling area Sultan Agung Street Batu yang kini ramai dengan aneka street food yang murah meriah (makan gado-gado, bakso dan es buah), menikmati gerimis di perjalanan dengan pemandangan sungai berbatu, berhenti sejenak buat foto-foto melepas penat hingga mampir di KOP SAE beli yogurt favorit anak.

Begitulah, sepertinya meluangkan waktu berdua saja bersama pasangan akan menyediakan saat-saat receh yang menyenangkan. Membicarakan hal-hal tidak penting yang tidak terduga, refresh dari keseharian yang penuh kegiatan. Berdua saja.

Kamis, 23 Maret 2023

Nyekar: Melangitkan Doa Menaburkan Cinta


Nyekar
adalah mudik
dalam versi yang lebih eksentrik

memberikan kita perjalanan rohani, saat doa dilangitkan bersama mengingat kembali seluruh jajaran sesepuh dan leluhur yang selalu kita sebut sebagai keluarga
bahkan setelah mereka tiada
  
menyajikan kita tamasya kenangan, dulu sekali merekalah yang kini kita ceritakan dalam barisan panjang peristiwa dan kejadian diantara percakapan meja makan saat para kerabat jauh maupun dekat mengalirkan kehangatan kebersamaan.

Nyekar menjadikan kita lebih intens disiplin mengingat pulang, dalam kenangan yang mampu menyatukan berbagai generasi dan kalangan. Bahwa, dalam keluarga besar yang kadang kita ga mampu hafalkan siapa sepupu siapa, saudara dari mbah yang mana, atau istri maupun suaminya saudaranya siapa...kita selalu menjadi bagian dari keluarga. 


Nyekar juga memberikan kita rasa yang unik. Frekuensi bersama saat bertemu banyak orang yang melakukan hal yang sama, nyekar dan berdoa. Kita tanpa sengaja bertemu tetangga jauh dan dekat, tetangga yang lama meninggalkan kampung halaman, tetangga yang hanya pulang saat menjelang puasa dan lebaran, untuk kepentingan yang sama...nyekar.

Secara sosial dan ekonomi, nyekar merekatkan kembali hubungan antar perangkat desa dan seluruh warganya. Mereka bahu membahu membersihkan area makam dalam acara kerja bakti. Tentu berkah tersendiri bagi warung sekitarnya yang menjadi kontributor urusan konsumsi. Itu belum termasuk petani dan pedagang bunga yang jelas akan langsung terimbas dalam peningkatan pendapatan yang signifikan. 

Nyekar bersama keluarga pun juga menjadikan kita selalu eling, memperkenalkan makam leluhur pada putra kita. Memberikan contoh bagaimana kita memperlakukan mereka setelah tiada. Adab dan tata krama menuju makam, berwudhu, memakai pakaian yang rapih dan sopan, khusyu mengikuti tahlilan yang dipimpin oleh ayahnya, menaburkan bunga di makam, memberikan donasi di kotak amal lalu cuci kaki dan salam pulang.

Hingga nanti, suatu hari...kita pun akan akan menjadi bagian dari kenangan itu


Minggu, 19 Maret 2023

AKSI NYATA: MENYEBARKAN PEMAHAMAN MERDEKA BELAJAR

Merdeka Belajar merupakan program kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim. Pengembangan program ini dapat diakses oleh para guru dengan menggunakan aplikasi Merdeka Mengajar yang tersedia pada Play Store. 

Aplikasi Merdeka Mengajar menyediakan beragam pelatihan mandiri yang dapat diikuti oleh guru yang terdiri atas beberapa seri. Salah satu seri pelatihan yang tersedia adalah Menciptakan Kelas Merdeka Belajar. Topik pelatihan yang saat ini adalah MERDEKA BELAJAR. Topik ini bertujuan untuk memahami peran guru Merdeka Belajar menurut Ki Hajar Dewantara.


Berikut dokumentasi sosialisasi Aksi Nyata:
Gb. 1: Sesi Presentasi

Gb. 2: Sesi Tanya Jawab

Sebagai refleksi, yang saya pelajari dari kegiatan ini adalah bahwa kelas merdeka belajar penting untuk diciptakan sebagai upaya bersama membentuk kebudayaan serta kemajuan jaman yang lebih baik di masa depan. Perasaan saya saat melakukan aksi nyata adalah saya merasa senang dapat ikut serta dalam upaya memulai kelas merdeka belajar di sekolah. Hal baik yang sudah saya pelajari adalah pentingnya mempertahankan semangat dan konsistensi bagi guru untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat agar dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang terbaik bagi murid. Hal baru yang saya pelajari saat melakukan aksi nyata adalah bahwa menciptakan kelas merdeka belajar membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari seluruh komponen sekolah agar dapat terlaksana dengan baik.

Salam Merdeka Belajar

Senin, 19 September 2022

GERAK PENA: BERKARYA BERSAMA SISWA

 


Kelas terasa lengang, dalam sehari hanya separuh yang dapat bertemu langsung didalam kelas. Apalagi yang dapat dilakukan? ini masih pandemi. Terasa canggung ternyata, saat pertama bertemu kelas yang sejak awal masuk sekolah ini hanya bisa saya temui dari google meet atau chat WA. Anak-anak memandang saya dengan canggung, menanti instruksi, sebagian lagi masih sibuk dengan gawainya. Saya memilih cara yang paling konvensional, mengabsen mereka satu persatu dan memandangnya baik-baik. Saya perlu mengenal mereka lebih dulu sebelum bisa mengajar dengan lebih baik daripada kelas online yang biasanya lebih dominan interaksi searah. Lagipula ini saat yang saya nantikan, bisa bertemu langsung dengan mereka.

Pembelajaran yang saya rancang blended learning mengharuskan saya membagi konsentrasi antara yang belajar di rumah dan yang kini sedang saya hadapi. Pandemi ini benar-benar menuntut kami memutar otak, berinovasi mencari cara mengajar yang efektif dan menyenangkan ditengah pembelajaran daring yang mulai terasa menjemukan. Kenapa? Karena yang saya hadapi saat daring adalah laptop dengan aneka agenda mengajar daring melalui Google Classroom maupun Google Meet. Hasil kerja mereka hanya bisa saya koreksi dengan laptop. Ada kalanya saya membaca hasil kerja siswa di GC dengan tulisan rapi, kualitas foto yang baik dengan penalaran yang runut dan penomoran yang urut. Tapi banyak juga yang tulisannya cukup "unik" sehingga butuh sedikit usaha ekstra untuk membacanya, ditambah dengan kualitas foto kurang bagus. Adakalanya sampai jauh malam saya harus membalas chat mereka yang bertanya tentang materi, tugas ataupun sekedar sharing hasil praktikumnya yang "tidak sesuai dengan di buku" dan bagaimana membahasnya dalam laporan. 

Maka saat mengajar luring benar-benar menjadi saat yang saya rindukan. Usai sesi perkenalan, apersepsi dan motivasi saya mulai beraksi. Menjelaskan LKS yang telah saya share di grup WA dan memberikan ruang bagi mereka untuk bertanya dan saling berdiskusi. Bahkan LKS yang saya buat dirancang secara terstruktur menjelaskan langkah demi langkah penelitian kecil tentang Kingdom Plantae serupa modul sehingga mereka dapat bekerja secara mandiri di alam. Saya menugaskan mereka menginstal aplikasi PlantNet untuk mengidentifikasi gambar organ tumbuhan berupa bunga, buah, daun dan kulit kayu serta menggunakan aplikasi itu untuk mengidentifikasi tumbuhan di sekolah secara langsung.

Sesi pengamatan membuat saya mengamati banyak hal diantara kesibukan saya mengisi lembar observasi pelaksanaan pembelajaran. Berada diluar ruangan respons mereka sangat beragam. Ada yang masih malu-malu berinteraksi dengan teman dan guru, ada yang sudah sangat heboh menceritakan hasil temuannya pada temannya, ada yang langsung mencari saya menunjukkan hasil pengamatan yang separuh jadi. Semangat dan antusiasme mereka saat mengambil foto, saling berbagi temuan tumbuhan yang mereka amati, saling memberikan solusi pada teman yang belum terampil menggunakan PlantNet serasa turut memberikan saya semangat dan antusiasme yang sama.

Sehari kemudian saya membuka google form tempat mereka mengirimkan laporan. Hampir sebagian besar nama siswa telah terpampang disana. Sehari berikutnya hanpir semua siswa telah tuntas mengerjakan tugasnya. Tapi itu belum apa-apa. Ketika saya membacanya satu persatu, aneka identifikasi tumbuhan berdasarkan hasil pengamatan, hasil identifikasi dari aplikasi hingga identifikasi dari website sesuai instruksi pada LKS terpampang rapi. Aneka tanaman di sekolah seperti Ruellia simplex, Sansevieria trafasciata Prain, Jatropha podagrica, Codiaeum variegatum,  Bougainvillea spectabilis  dan banyak lagi, hingga beberapa spesies tumbuhan yang mereka amati di rumah telah teridentifikasi dengan baik. Sebagian masih perlu dibenahi, tapi sebagian lagi, bahkan sudah lebih baik daripada yang sudah saya paparkan dalam presentasi.

Pada even Hari Guru Nasional 2021 saya menuliskan pembelajaran ini dalam Best Practice artikel inovasi pembelajaran IPA yang bertajuk Gerak Pena 2021 (Gelar Karya Pendidik Sains Indonesia) yang diselenggarakan oleh P4TKIPA dengan proses seleksi terbuka karya guru se-Indonesia. Bahagia dan bangga rasanya saat karya itu lolos seleksi. Mepetnya undangan yang didapat secara online membuat saya harus bekerja luar biasa sebelum bisa berangkat. Menghubungi cabang Dinas Pendidikan mengurus Surat Tugas, merancang X-Banner, finalisasi draft presentasi yang harus sudah terkirim online, mencari tiket kereta hingga Rapid Test antigen saya lakukan dalam sehari menjelang hari H. Ini adalah kali pertama even peringatan HGN kembali dilaksanakan luring pasca pandemi. Total 20 guru Biologi, 20 guru Fisika, 20 Guru Kimia, 20 guru IPA SD dan 40 guru IPA SMP diundang dalam perhelatan itu. Sehari sebelum peringatan HGN 2021, saya berangkat ke Bandung.

Dalam even itulah saya menyadari, saya tidak sendiri. Seratus dua puluh guru yang diundang kesini, dengan inovasi dan perjuangannya berada dalam acara ini sedang berada dalam misi yang sama, mempersempit jarak learning loss dan realita yang sedang melanda. Saya mengedari ruangan membaca satu persatu karya mereka di sepanjang pinggir hall tempat walking gallery dalam jajaran X-Banner berwarna warni. Bahkan dalam ruang presentasi kelas Biologi, kami berkesempatan saling presentasi memaparkan inovasi yang telah kami lakukan dalam pembelajaran beserta lika liku pembelajaran daring, luring hingga blended learning dengan segala dinamikanya. Saya memegang map piagam usai berfoto bersama dengan berkaca-kaca saat membaca tulisannya. Piagam Penghargaan sebagai peserta Gelar Karya Pendidik Sains Indonesia bagi Guru Biologi jenjang SMA dengan tema Bergerak dengan Hati Pulihkan Pendidikan dalam rangka Hari Guru Nasional Tahun 2021.

Kembali ke sekolah lagi memberikan wacana baru bagi saya, pandemi ini telah merubah wajah pendidikan di negara kita. Semua terdampak, semua harus bertindak. Guru Merdeka Belajar dan terus bergerak mengatasi kondisi dan keterbatasan. Memodifikasi dan berinovasi dalam pembelajaran. Terus memperkaya wawasan dan  membuat perubahan positif mulai dari dirinya, dari kelasnya, dari siswanya. Begitulah semangat yang sama akan terus bersambungan membentuk jembatan, menjadikan harapan bahwa kita dapat bersatu bekerjasama mengejar ketinggalan.

Kini kelas telah penuh terisi, meskipun saya masih terus membawa pandemic kit (hand sanitizer, masker cadangan dan face shield), masih terus harus mengingatkan siswa protokol kesehatan, bersama harapan dan doa yang melangit mengangkasa, badai pandemi ini segera berlalu pergi, kelas akan kembali hidup dengan karya-karya siswa di dindingnya. Juga lebih banyak lagi inovasi pembelajaran yang bisa diterapkan, karena kita dan siswa kita telah cakap dan biasa menggunakan gawai dan aplikasinya, telah banyak tahu website tentang materi dan media pembelajaran. Peninggalan pandemi yang terus bisa kita ambil dan manfaatkan.

Note:

Cerpen ini telah dibukukan dalam buku Antologi Karya Cerpen yang berjudul "New Normal New Hope" yang berisi 20 karya terbaik dari guru dan orangtua jebolan finalis "Lomba Menulis Cerpen ROMO #4" SD Plus Rahmat Kota Kediri


Minggu, 18 September 2022

Seberang Angan

Siang dengan angin yang riuh dan kepala yang penuh memang seringkali secara instan membuat jenuh. May mengambil waktu sela diantara jam kuliahnya untuk mengambil istirahat. 

Perustakaan lagi...

Tempat paling nyaman memanjakan diri, walaupun tidak sepenuhnya benar

"Siang May, sibuk ya..." sapaan ramah dan akrab yang hampir sebulan ini menghiasi agendanya di perpustakaan

"Hai...enggak kok, cuma nulis surat"

"Hari gini? Nulis surat?" raut wajah Brian mengumbar heran tapi juga ingin tahu.

"Iya. Kami saling berkirim surat sejak lama. Surat itu, lebih humanis, lebih menyentuh, lebih artistik karena tulisan tangan dia bagus banget" 

"Dia mahasiswa sastra? atau jurusan seni?" langsung mengambil kursi berhadapan dengan May

"Bukan sih. Dia kerja. Dulu saat SMA jurusannya bahasa"

"Cowok ya?" 

" Iya. Eh, tadi katanya tadi Brian mau kasih aku sesuatu?" May tetiba teringat saat terakhir ketemu Brian kemarin sore.

Seketika Brian ingat coklat berpita merah yang semalam membuatnya tidak bisa tidur. Untuk May. Entah kenapa setelah perbincangan tadi Brian jadi ragu memberikannya. Hening sesaat. Brian menatap May yang memandang lurus ke arahnya. 

"Ehm, ...aku nemu esai yang menarik. Punya Leak. Nemu di rak buku lantai 2. Mungkin, sesekali kamu bisa baca yang agak sosiologi gitu..." Brian menjawab sekenanya.

"Kritik sosial? tema yang agak serius ya? tapi menarik juga sih...trus, kita mau apain? jadikan monolog, puisi, cerpen? mungkin kita memang cocok untuk bikin projek bersama" 

Jika sudah begini, obrolan akan terus mengalir kesana kemari dengan asyiknya. Jauh dari urusan tugas kuliah mereka. Jurusan sains dan jurusan tehnik yang sedang rehat dari dunianya. Obrolan terhenti saat May teringat sesuatu.

"Brian, hampir lupa. Aku juga mau kasih sesuatu ke kamu" May mengeluarkan coklat mete kesukaannya yang dibungkus kertas kado berpita ke Brian. Tersenyum memandang wajah Brian yang kini ekspresinya sulit diartikan.

"Ehm, jangan diketawain ya...Sebenarnya saat semalam teman-teman kos ngajak beli coklat valentine aku ga pengen sih. Buat apa? Buat siapa? tapi akhirnya aku beli 2. Satu lagi untuk bapak ibuk dirumah sih, tapi lagi ga pulang. Satu lagi buat Jun, sahabat seangkatan jurusan Biologi yang udah tak kasihkan dari habis subuh tadi"

"Trus, kok dikasih ke aku May...?"

"Ya, aku sayang ke ayah bundaku tiap hari meski tanpa coklat itu, jadi kukasih aja ke kamu, best partner that I have" 

Brian mematung berusaha tersenyum, teringat coklat berpita yang tetap tinggal di tas perpustakaan yang ia bawa. Mencerna senyum matahari yang ia lihat di wajah May saat menulis surat. Siapa cowok itu? Mereka sepasang kekasih? 

*Teaser: Bendera Kata