Minggu, 21 Juni 2026

Panduan Pembelajaran Biologi Fase F SMA/MA Kurikulum Merdeka

Panduan Mata Pelajaran Biologi Fase F yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk jenjang SMA/MA kelas XI dan XII. Sumber ini bertujuan menjadi acuan bagi pendidik dalam menerjemahkan Capaian Pembelajaran (CP) ke dalam aktivitas kelas yang mengedepankan pembelajaran mendalam, bermakna, dan berpusat pada siswa. Isi panduan mencakup pemetaan materi esensial seperti biologi sel, metabolisme, sistem organ, hingga pewarisan sifat dengan pendekatan yang mengintegrasikan pemahaman konsep dan keterampilan proses ilmiah. Selain itu, dokumen ini menjelaskan penggunaan Taksonomi Bloom sebagai kerangka kerja untuk membangun kemampuan berpikir kritis serta memberikan contoh nyata kontekstualisasi materi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui panduan ini, guru diharapkan mampu merancang perencanaan pembelajaran dan asesmen yang interaktif guna menyiapkan siswa menghadapi tantangan global dan kesehatan.

1. Tiga Tahapan Pengalaman Belajar

Pembelajaran mendalam diimplementasikan melalui siklus pengalaman belajar yang saling berkaitan,:

  • Memahami: Murid tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi aktif mengonstruksi pengetahuan dengan menghubungkan materi baru dengan pengetahuan sebelumnya dan konteks nyata,. Contohnya, pada materi sel, murid tidak hanya menghafal organel, tetapi mencermati model kerja sama antarorganel agar sel berfungsi optimal.
  • Mengaplikasi: Pengetahuan yang diperoleh diterapkan untuk menyelesaikan masalah nyata atau membuat keputusan dalam situasi baru secara kreatif. Misalnya, murid diminta memberikan solusi untuk menghindari stunting berdasarkan pemahaman materi pertumbuhan dan perkembangan.
  • Merefleksi: Murid mengevaluasi proses dan hasil belajar mereka sendiri. Ini melibatkan kemampuan metakognitif untuk menyadari strategi belajar yang efektif dan merumuskan langkah perbaikan di masa depan. 

2. Prinsip Utama Pembelajaran

Implementasi ini berlandaskan pada tiga prinsip utama:

  • Berkesadaran: Murid sadar akan tujuan belajarnya, termotivasi secara intrinsik, dan mampu meregulasi diri sebagai pembelajar sepanjang hayat.
  • Bermakna: Pembelajaran dikaitkan dengan isu nyata (personal, lokal, atau global) dan memberikan manfaat bagi kehidupan murid. Contohnya adalah membahas penyakit diabetes melitus dalam materi sistem organ untuk mendorong pola hidup sehat.
  • Menggembirakan: Menciptakan suasana belajar yang positif, menantang, dan memenuhi kebutuhan emosional serta psikologis murid agar mereka antusias mempelajari diri sendiri dan lingkungannya.

3. Komponen Pendukung

Penerapan pembelajaran mendalam didukung oleh empat komponen operasional:

  • Praktik Pedagogis: Menggunakan strategi seperti pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), inkuiri, debat, atau pembelajaran kolaboratif. Contohnya adalah debat terbuka mengenai bioetika produk rekayasa genetika (GMO) pada materi bioteknologi.
  • Lingkungan Pembelajaran: Mengintegrasikan ruang fisik (laboratorium, alam sekitar), ruang virtual, dan budaya belajar yang interaktif serta aman bagi murid untuk bereksplorasi.
  • Pemanfaatan Teknologi Digital: Teknologi digunakan sebagai alat bantu perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen, seperti simulasi virtual (PhET), penggunaan AI untuk membangun argumen, hingga pembuatan portofolio digital.
  • Kemitraan Pembelajaran: Melibatkan pihak luar seperti orang tua, tenaga kesehatan (dokter/perawat), atau komunitas petani untuk memberikan pengalaman belajar yang autentik.

Berikut adalah rincian materi esensial dan keterampilan proses:

1. Materi Esensial

Materi esensial dalam kurikulum ini dipetakan ke dalam tujuh lingkup utama yang dikembangkan untuk pembelajaran mendalam:

  • Struktur dan Fungsi Organel Sel: Mencakup keterkaitan antar fungsi organel di dalam sel serta proses pembelahan sel (mitosis dan meiosis).
  • Bioproses pada Sel: Meliputi mekanisme pergerakan zat melalui membran sel (transpor aktif dan pasif) serta metabolisme sel yang melibatkan peran enzim.
  • Sistem Organ: Fokus pada analisis keterkaitan antar sistem organ dalam merespons berbagai stimulus untuk membentuk satu individu yang utuh.
  • Pewarisan Sifat: Terdiri dari materi sintesis protein (DNA, RNA, dan protein), Hukum Mendel (1 dan 2 serta penyimpangannya), dan pola-pola hereditas pada manusia.
  • Evolusi: Mempelajari teori dan bukti evolusi serta kaitannya dengan pembentukan spesies baru dan biodiversitas.
  • Pertumbuhan dan Perkembangan: Menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi proses pertumbuhan serta contoh perkembangan pada makhluk hidup.
  • Bioteknologi Modern: Berfokus pada karakteristik, proses rekayasa genetika, dan aspek bioetika dalam aplikasinya. 

2. Keterampilan Proses

Keterampilan proses merupakan cara untuk memperoleh pemahaman biologi melalui keterampilan inkuiri yang dinamis. Keterampilan ini mencakup enam tahapan utama:

  • Mengamati: Mencatat hasil pengamatan fenomena ilmiah secara detail untuk memunculkan pertanyaan penelitian.
  • Mempertanyakan dan Memprediksi: Merumuskan pertanyaan ilmiah terkait hubungan antarvariabel dan menyusun hipotesis yang dapat diuji.
  • Merencanakan dan Melakukan Penyelidikan: Memilih metode dan alat yang sesuai (termasuk teknologi digital) serta mengendalikan variabel untuk mengumpulkan data akurat.
  • Memproses serta Menganalisis Data dan Informasi: Menafsirkan data secara jujur, mengidentifikasi tren atau pola, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti ilmiah.
  • Mengevaluasi dan Refleksi: Mengidentifikasi ketidakpastian hasil, mengevaluasi kesimpulan, dan menganalisis validitas informasi dari berbagai sumber.
  • Mengomunikasikan Hasil: Menyampaikan hasil penyelidikan secara sistematis dengan argumen ilmiah yang kuat.

Penting untuk dicatat bahwa kedua elemen ini disampaikan sebagai satu kesatuan yang utuh; keterampilan proses digunakan murid untuk memahami fakta, konsep, dan prinsip biologi secara mendalam


 

PANDUAN MATA PELAJARAN IPA SMA

Panduan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk Fase D dan E yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada tahun 2025. Dokumen ini dirancang khusus untuk membantu pendidik dalam menerjemahkan Capaian Pembelajaran (CP) ke dalam strategi pengajaran di kelas yang lebih berkualitas dan berpusat pada murid. Melalui pendekatan pembelajaran mendalam, panduan ini memuat pemetaan materi esensial seperti sistem organ, pewarisan sifat, hingga konsep energi yang dikaitkan dengan isu global dan kehidupan nyata. Fokus utamanya adalah membekali guru dengan instruksi sistematis untuk mengembangkan keterampilan proses, sikap ilmiah, serta karakter profil lulusan yang kritis dan kreatif. Selain itu, sumber ini menyediakan kerangka kerja operasional yang mencakup metode pengajaran, contoh alur tujuan pembelajaran, serta integrasi asesmen yang komprehensif.

Berdasarkan panduan, materi esensial IPA pada Fase E (umumnya Kelas X SMA) yang terkait langsung dengan bidang Biologi meliputi beberapa topik utama berikut:

  • Keanekaragaman Hayati: Materi ini mencakup sistem pengklasifikasian, sistem takson, serta peranan dan strategi pelestarian keanekaragaman hayati. Murid diharapkan memahami bahwa makhluk hidup beraneka ragam dan keberagaman tersebut memiliki manfaat penting secara ekologis.
  • Virus: Fokus materi ini adalah pada karakteristik virus dan peranannya dalam kehidupan manusia, baik yang merugikan (menyebabkan penyakit) maupun yang menguntungkan (seperti dalam pembuatan vaksin)
  • Bakteri: Mencakup karakteristik dan peranan bakteri dalam kehidupan. Materi ini penting karena bakteri hidup di semua lingkungan, termasuk tubuh manusia, dan memberikan dampak positif (seperti produksi makanan) maupun negatif (gangguan kesehatan).
  • Jamur: Meliputi karakteristik dan peranan jamur dalam kehidupan, seperti perannya dalam memproduksi makanan atau sebagai penyebab gangguan kesehatan.
  • Ekosistem: Materi ini membahas interaksi antar komponen ekosistem (biotik dan abiotik) dan pengaruhnya terhadap keseimbangan ekosistem, termasuk rantai makanan, jaring-jaring makanan, aliran energi, daur materi, dan piramida ekologi

Materi Fisika difokuskan pada penguatan keterampilan pengukuran ilmiah, analisis gerak, dan solusi energi.

  • Sistem Pengukuran dalam Kerja Ilmiah: Mencakup besaran, satuan, dimensi, penggunaan alat ukur yang tepat, serta metode ilmiah dalam penyajian hasil ukur yang akurat.
  • Gerak Dua Dimensi: Menganalisis konsep gerak dengan kecepatan tetap, percepatan tetap, dan gerak parabola menggunakan bantuan konsep vektor.
  • Energi Alternatif: Membahas hukum kekekalan energi, perubahan bentuk energi, serta eksplorasi ragam sumber energi alternatif (terbarukan) untuk mengatasi ketersediaan energi.

Materi Kimia membangun fondasi pada struktur materi tingkat atom hingga perhitungan kuantitatif dalam reaksi.

  • Partikel Penyusun Materi: Mempelajari atom, molekul, dan ion; perkembangan model atom; struktur atom (proton, neutron, elektron); nomor atom dan nomor massa; serta sistem periodik unsur dan tata nama senyawa.
  • Stoikiometri: Fokus pada aspek kuantitatif reaksi kimia, termasuk rumus kimia (empiris dan molekul), hukum dasar kimia, konsep mol, penyetaraan persamaan reaksi, dan pereaksi pembatas.

Selain materi-materi spesifik di atas, terdapat materi Perubahan Iklim yang bersifat interdisipliner, namun sangat terkait dengan biologi karena membahas dampaknya terhadap biodiversitas dan ekosistem. Dalam implementasinya, murid didorong menerapkan konsep dari Biologi, Fisika, dan Kimia secara bersamaan untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang diakibatkan oleh Perubahan Iklim.

 

Selasa, 01 Juli 2025

PENDIDIKAN PERUBAHAN IKLIM: HARAPAN DAN TANTANGAN

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi

Perubahan iklim bukanlah sekadar fenomena alam biasa. Ini adalah perubahan besar dalam pola cuaca global yang disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer. Dampaknya sudah mulai kita rasakan, bahkan di sekitar kita. Pernahkah kita merasa cuaca semakin tidak menentu? Musim kemarau yang lebih panjang, hujan lebat yang tiba-tiba, atau suhu yang terasa semakin panas dari tahun ke tahun? Itu semua adalah tanda-tanda perubahan iklim.

Mengapa penting bagi kita untuk belajar tentang ini? Karena perubahan iklim akan memengaruhi masa depan kita, masa depan bumi tempat kita tinggal. Kenaikan permukaan air laut bisa menenggelamkan daerah pesisir, perubahan suhu ekstrem bisa mengancam pertanian dan ketersediaan pangan, dan hilangnya keanekaragaman hayati bisa mengganggu keseimbangan ekosistem yang begitu vital bagi kehidupan kita.

Pendidikan tentang perubahan iklim bukan hanya tentang memahami masalahnya, tetapi juga tentang menemukan solusinya. Ini adalah tentang membekali diri dan orang lain dengan pengetahuan dan kesadaran untuk menjadi agen perubahan. Kita sebagai guru, kita sebagai masyarakat adalah generasi yang akan menjadi saksi bahwa perubahan iklim dan dampaknya itu ada. Nyata terjadi di sekitar kita. Anak-anak maupun siswa di kelas kita adalah generasi penerus, yang akan hidup di dunia yang semakin terdampak oleh perubahan iklim. Oleh karena itu, kita punya peran krusial untuk memastikan masa depan yang lebih baik.

Mungkin ada di antara kalian yang berpikir, "Apa yang bisa saya lakukan?" Setiap tindakan kecil memiliki dampak besar jika dilakukan bersama-sama. Kita punya kekuatan untuk menciptakan perubahan, dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekolah dan masyarakat.

Berikut adalah Panduan Implementasi Perubahan Iklim agar fenomena tidak hanya berhenti sebagai data dan regulasi tapi juga menjadi aksi yang dapat dimulai dari diri sendiri.

Di kelas, guru adalah pembentuk masa depan. Masa depan Bumi terancam oleh krisis iklim yang nyata. Bukan sekadar bab dalam buku, ini adalah realitas yang harus kita hadapi! Masa depan Bumi ada di tangan siswa kita. Tugas kita adalah membekali mereka dengan ilmu, kesadaran, dan keberanian untuk menjaganya. Jangan biarkan isu lingkungan hanya menjadi materi tambahan. Jadikan ia jantung dari setiap mata pelajaran.

Mari berkolaborasi menciptakan inovasi media pembelajaran yang memantik empati dan menumbuhkan aksi nyata.

Mari kita tinggalkan warisan yang berarti. Integrasikan isu lingkungan, perubahan iklim, dan konservasi ke dalam setiap mata pelajaran.

Mari kita berinovasi dengan media pembelajaran yang tidak hanya mengedukasi, tetapi juga menggetarkan hati dan mendorong aksi nyata. Kepedulian harus ditanam, dan kita adalah para pekebunnya.

Bapak/Ibu guru dapat menjadi Agen Perubahan Sejati di ruang kelas, demi Bumi yang Lestari bagi generasi penerus kita. Mari bersama-sama menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan bumi melalui kekuatan edukasi. Sambut tantangan ini, dan tunjukkan bahwa guru Indonesia adalah Pelopor Penjaga Bumi!

 


Selasa, 06 Mei 2025

HANTU ITU BERNAMA BRAIN ROT


Siang itu sangat panas. Aku menyeka keringat sesaat sebelum memasuki ruang kelas. Mengajar di kelas sains tidak selalu butuh energi yang besar. Tapi kelas ini adalah kelas istimewa. Kelas yang sangat heterogen kemampuan akademisnya dan juga menjadi momok bagi sebagian guru pengajarnya. Kelas ini tidak pernah full energi dan full amunisi untuk mengikuti pelajaran. Ada saja siswa yang tidur di kelas, tidak membawa buku atau alat tulis, ijin ke kamar mandi berkali-kali, dan tentu saja banyak yang terlambat mengumpulkan tugas. Berkali-kali. Berhari-hari. Tanpa merasa bersalah, apalagi memperbaiki diri.

Angin berhembus sepoi, mengusir sejenak gerah usai menaiki tangga lantai dua menuju dimana kelas itu berada. Mengetuk pintu. Randi membuka pintu. Spontan kuucapkan terima kasih sambil tersenyum. Siswa itulah yang hampir selalu membuka pintu dan membawakan buku teman-temannya ke meja guru. Tapi belakangan, aku selalu bertanya siapa yang piket di hari aku mengajar jika papan tulis harus dihapus, membantu memasang LCD atau mengambil kembali buku tugas yang sudah kukoreksi di ruang guru.

“Assalamualaikum…Selamat Siang semuanya…”. Aku tersenyum sembari berjalan menuju meja guru. Sebagian siswa menjawab dan bersegera duduk di bangku yang tidak tertata rapi. Sebagian siswa sedang sibuk, mengerjakan tugas dengan menyalin milik temannya. Dan tentu saja, sebagian lagi ada yang tidur. Aku memandang seisi kelas dengan teliti, sejenak mempelajari situasi. “Baik, silahkan semuanya berdiri…” Aku mengatur posisi ice breaking sederhana menyebutkan kata bersambung berdasarkan huruf terakhir yang disebutkan oleh temannya. Riuh sejenak. Aku persilahkan mereka duduk kembali.

Setelah apersepsi aku menuliskan tujuan pembelajaran hari ini. Sistem Syaraf Manusia. “Baik, sebelum kita masuk pada materi hari ini, apakah ada yang kalian tanyakan tentang materi minggu lalu? Senyap. Apakah materi Sistem Syaraf sudah kalian baca? Diam. Apakah ada yang bersedia untuk mengemukakan apa yang sudah dibaca tentang Sistem Syaraf Manusia?” Saling menoleh ke temannya. Aku tetap tersenyum. Sudah kuduga. Seperti biasanya. Tidak apa memberi mereka waktu untuk “belajar membaca”.

Minggu lalu bahkan mereka begitu asyik dengan gawainya saat temannya presentasi menggunakan model tulang manusia. Aku sengaja berkeliling ke bangku siswa dan menempatkan diri di belakang agar dapat mencermati presentasi sekaligus mengamati keseluruhan suasana kelas. Berada dibelakang bangku beberapa siswa yang terlihat fokus dengan gawainya. Nonton video prank, tutorial entahlah, reels, T*kT*k dan sembarang short video yang tertampil acak pada fyp. Tapi ketika kutanyakan mereka sedang menonton apa jawabannya cuma ‘nggak Bu’ lalu meletakkan gawainya. Beberapa anak lain yang sempat kutanya diluar kelas pun ternyata terpapar kebiasaan yang sama, tidak tergerak mencari informasi yang relevan untuk hidupnya plus tidak paham apa yang sedang ditontonnya. Sulit mendengarkan instruksi sederhana dan tidak fokus membaca meskipun hanya beberapa paragraf saja. Jika mereka memang suka nonton video, saat kuajak nonton video pembelajaran dan film dokumenter beserta pertanyaan pemantik untuk berdiskusi mereka juga tidak merespon seperti seharusnya? Pikiranku sibuk merefleksi pembelajaranku selama ini.

Hari itu aku mengeluarkan banyak kartu dari tasku. Flash Card bertuliskan aneka istilah dalam Sistem Syaraf Manusia beserta charta peta konsep di papan tulis. “Hari ini kita akan pelajari bersama Sistem Syaraf dalam tubuh kita. Tapi kalian harus baca dulu materinya…”. Lalu kami membuat kesepakatan belajar tentang Flash Card itu. Selebihnya kuminta mereka untuk share, think and pair mengemukakan hasil bacaan mereka bersama pasangannya. Apa yang terjadi? Ternyata hasil bacaan dari buku dan sumber lain yang mereka bisa cari dengan gawainya justru didominasi oleh tools yang menurutku di fase ini justru meracuni. Chat GPT. Plek ketiplek tanpa memasukkan referensi apapun lagi.

Sebenarnya ingin sekali aku menganalisa gejala ini dan berusaha mencari solusinya, tapi yang kubutuhkan adalah refresh sejenak sebelum memasuki kelas selanjutnya. Meskipun hanya dengan melakukan rutinitas harian biasa. Membaca. Jika tidak sempat membaca buku ya apapun yang online dan menurutku penting untuk kutahu. Fyp hari itu, Brain Rot. Tertulis di beberapa media sosial dan media online yang biasanya kubaca. Seketika menarik perhatianku karena relate dengan fenomena yang ada.

Kata brainrot diumumkan menjadi Word of The Year 2024 oleh Oxford University Press. Istilah ini menjadi topik yang mendapat perhatian tahun 2024 lantaran dampak penggunaan media sosial yang semakin mengenaskan. Brainrot atau “pembusukan otak” adalah istilah yang menggambarkan suatu kegemaran yang berlebihan atau obsesi terhadap konten digital hingga menyebabkan “pembusukan” otak. Brainrot ini muncul akibat seseorang yang mengkonsumsi konten digital berkualitas rendah atau receh secara berlebihan yang menyerang Gen Z dan generasi setelahnya.
 
Lanjut baca, semakin paham apa yang terjadi pada anak-anak ini, bukan hanya di kelas, tapi bahkan juga anakku sendiri. Semakin kubaca, semakin aku tahu akibatnya begitu ngeri. Pelemahan otak dan daya pikir yang membuat pengguna media sosial malas berpikir berat. Aku teringat begitu susahnya menemukan siswa yang mau diajak ikut karya ilmiah atau olimpiade sains. Teringat susahnya membuat mereka sekedar mau membaca dulu agar mereka paham bagaimana memahami materi, melakukan koneksi dengan kehidupan sehari-hari atau hanya agar kelas kami bisa aktif saat sesi diskusi dan presentasi.

Pertemuan selanjutnya, pada kegiatan inti aku langsung membagikan kepada mereka bahan bacaan pendek. Game membaca. Gawai mereka aku minta untuk dikumpulkan di meja depan. Tentu saja, milikku juga. Kami lesehan di lantai kelas, melingkar membawa lembar bacaan materi Penyakit dan kelainan Sistem Syaraf yang mempengaruhi Sistem Gerak beserta teknologinya. Beberapa siswa terlihat tidak tertarik dan malas melepas gawainya. Aku harus meyakinkan mereka bahwa sesi tanpa gawai hanya 45-60 menit saja sesuai dengan kesepakatan kami. Dan bahwa aku tidak ingin tahu isi gawainya atau apapun didalamnya, maka agar semua tidak terganggu dengan itu gawainya di silent saja.

Game itu hanya game sederhana untuk bergiliran membaca, bertanya dan menjawab. Semua dapat giliran berbicara dan mendengarkan, pendapat siapapun diperhatikan, sesuai dengan giliran. Sesi 1, beberapa siswa membaca lembar bacaan yang dibawanya. Sesi 2, beberapa siswa aku tunjuk acak untuk bertanya. Sesi 3, sesi bebas. Beberapa siswa angkat tangan meskipun ragu-ragu. Menjelaskan bahan bacaan yang mereka bawa dengan bahasanya sendiri, meskipun masih dengan satu atau dua kalimat pendek. Bahkan Randi, siswa pendiam pembuka pintu itu juga. Membaca penjelasan yang tertulis di lembar bacaan miliknya. Skor yang terpampang dan stiker buatan sendiri yang kuberikan cukup ampuh meramaikan suasana.

Pada sesi refleksi kami saling bertutur tentang pembelajaran hari itu. Aku sedikit menceritakan tentang Brain Rot yang kubaca. Memberikan wawasan tentang Kesadaran Diri dan Manajemen Diri memanfaatkan waktu secara lebih produktif. Sesederhana menyisihkan 10-20% waktu untuk menonton konten edukasi dan pengembangan diri. Sesederhana biasa berbagi tontonan inspiratif antar teman seperti terbiasanya mereka mabar game online.

Menjelang 60 menit game berjalan tak terasa, beberapa siswa mulai gelisah. Aku paham, beberapa mereka kesulitan untuk berpisah dengan gawainya terlalu lama. Hari itu, aku juga paham bahwa teknologi bukan untuk dimusuhi tapi untuk ditata kembali agar bisa mengembangkan potensi manusia. Bukan justru melemahkan dan membunuhnya. Aku mengakhiri pembelajaran hari itu. Salah satu siswa mengangkat tangan dan bertanya,
“Bu, apa menggunakan chat GPT untuk mengerjakan tugas tidak diperbolehkan?”
“Boleh. Tapi ada tehniknya. Namanya prompting. Kita bisa memandu chat GPT membantu kita membuat karya. Minggu depan kita akan mempelajarinya bersama…”

Aku tidak anti pada teknologi, tapi Brain Rot ini harus diperangi.
Memang baru dimulai, tapi literasi adalah tentang kebiasaan dan konsistensi. 

Minggu, 04 Mei 2025

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2025

 POV: Belajar Menjadi Orangtua


Jika anak sering membantah, mungkin ia belum paham mana yang benar mana yang salah, mungkin ia perlu mengerti bagian dari kehidupan yang disebut dengan ‘konsekuensi’. Tindakan positif akan menjadi atmosfer positif, tindakan negatif akan memanggil energi negatif.

 

Jika sering ia memilih untuk tak pulang tanpa penjelasan, kita perlu bertanya pada diri ‘adakah rumah telah memberinya ruang untuk saling berbincang? Bukan sekedar kumpulan aneka perintah dan larangan. Karena telah banyak rumah yang berdiri hanya sebagai bangunan, tempat transit dari beragam kesibukan tugas dan pekerjaan, bukan ‘tempat pulang yang nyaman dan dirindukan’.

 

Jika caranya berkomunikasi tetiba terasa keras dan kasar, ‘adakah lingkungan tempatnya berpijak telah memberinya teladan yang bar-bar?’ atau justru kita sendirilah yang membuatnya berubah menjadi ‘pembuat onar’.

 

Kita percaya menyekolahkannya di sekolah yang bagus, tapi tentu harus selalu ingat bahwa Tripusat Pendidikan terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Ki Hajar Dewantara). Maka seharusnya peringatan Hari Pendidikan Nasional tak hanya berhenti soal upacara di sekolah dan pake baju batik atau kebaya. Tapi juga harus ‘dirayakan’ di rumah juga. Dalam bentuk yang lebih ‘romantis’, dengan ‘hadir’ sepenuhnya menemani anak-anak kita.

 

Tentu tak mudah menjadi orangtua, karena cara orangtua mengasuh kita dulu tak mungkin diterapkan persis dengan cara kita mendidik anak saat ini. Juga tak mudah menjadi anak, karena dia juga baru pertama kali mengalaminya. Perlu saling belajar untuk mendapatkan cara terbaik berkomunikasi. Perlu saling bersabar untuk terus menjadi yang terbaik dalam bertumbuh meraih mimpi.

 

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025

“Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”

Selamat bertumbuh menjadi orangtua, keluarga, pendidik maupun masyarakat yang turut serta dalam mendidik Generasi Emas Indonesia. Seperti kata pepatah “it takes a village to raise a child’ (perlu satu desa untuk mendidik anak). Karena Pendidikan akan bermakna jika kita turut berbuat, turut terlibat dan turut bertanggungjawab atas tumbuh kembang generasi mendatang.



Untuk putra kami:

Maafkan jika tak sempurna, kami sebagai orangtua

Tapi yang pasti kami hanya ingin kalian bahagia


Bila bentakan kecilku patahkan hatimu, lebih keras lagi dunia ini kan menghakimimu

Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini

Kau harus kuat, kau harus hebat…permata hatiku

(Virgoun)


Jumat, 02 Mei 2025

FOTO LANGKA UNTUK DIPERJUANGKAN

 Lebaran 2023


Lebaran 2024

Lebaran 2025

Ini adalah foto bersama keluarga dari jalur Bapak. Bapakku adalah anak bungsu dari 13 bersaudara. Usianya saat ini 77 tahun. Maka bayangkanlah berapa banyak saudara bapak telah beranak pinak dan bercucu. Aku belum tahu persisnya dan dimana saja rumahnya. Tapi yang pasti, dari seluruh sebanyak ini kami saling mengenal satu sama lain.

Ayah bapak bernama Mbah Bardjo. Aku belum pernah bertemu karena beliau telah meninggal saat aku lahir. Istrinya bernama Mbah Jo putri, meskipun namanya asli adalah Rusminah. Sepanjang yang kuingat, Mbah Jo putri sudah sepuh sejak aku kecil. Tapi giginya masih bagus dan kuat karena kebiasaannya 'Nginang' (tradisi kuno Indonesia mengunyah campuran daun sirih, pinang dan kapur gambir). Bahkan, makanan favoritnya adalah kacang atom. Beliau juga punya doa jawa yang panjaaa...ng banget setiap kali cucu-cucunya salim. Sebagiannya kira-kira begini, 'tekano jongko jangkahmu, lancaro rejekimu, suk mben dadi mantri guru...' dan sederet 'mantra' bahasa jawa yang kini aku sudah lupa. 

Bapakku diasuh oleh budeku sejak masih belia (bude adalah saudara Bapak nomor lima). Saudara bapak yang lain ada yang di tinggal di desa kami, di Surabaya dan ada juga yang sudah meninggal. Pastinya, kini dari Mbah Bardjo dan Mbah Rusminah telah bertambah jumlah yang sangat banyak.

Rumah bude selalu jadi 'jujugan' hampir seluruh saudara jauh yang 'mudik ke desa' karena beliau adalah saudara tertua yang tinggal di Kediri. Terutama pada saat lebaran. Maka sejak kecil banget, aku sudah biasa dengan seluruh hiruk pikuk keramaian lebaran saat mereka kumpul bersama. Setelah Bude meninggal, tradisi ini berlanjut terus hingga sekarang di rumah tinggal Bapak.  

Foto Lebaran

Setelah para Gen Z lahir dan HP marak digunakan dimana-mana, Foto lebaran adalah tradisi kami berikutnya. Mengapa? karena semakin tahun akan ada yang "datang" sebagai anggota keluarga baru dan yang belum sempat pulang dan pengen dikirimi foto dokumentasi. Bahkan ada juga yang telah berpulang dan hanya bisa kami doakan bersama-sama.

Berbagai cerita, canda dan obrolan gak penting selalu dinantikan oleh semua. Meskipun setiap tahun menunya itu-itu saja. Nasi pecel, rempeyek homemade, dawet dan cincau, tape ketan hitam homemade plus opor ayam buat para bocil dan mereka yang gak suka makanan pedas. Kadang ditambah dengan aneka makanan bawaan mereka yang dari rantau untuk saling disajikan di meja makan.

Berbagi Tugas

Maka lengkaplah sudah komposisinya kini. Mulai dari Gen Baby Boomers, Gen X, Gen Milenial, Gen Z dan sekarang Gen Alpha. Bisa dibilang pembagian tugasnya cukup unik. Gen Baby Boomers bisa duduk manis saling bercerita tentang anak cucu mereka. Gen X dan Milenial (termasuk aku) bisa saling melepas kangen sambil menata hidangan dan aneka camilan. 

Gen Z (seusia anakku) punya tugas istimewa saling bercanda saling mengenal saudara. Kelak, mereka juga akan saling mengenalkan suami/istrinya juga anak-anaknya. Beberapa diantara mereka melihat ke arah kami 'mungkin untuk menunjukkan kepada yang lain, yang mana bapak atau ibunya'. Ada juga sih para gadis yang kemudian nyempil di pojokan teras, sekedar mengekspresikan diri dengan live tik tok 'velocity'.  Gen Alpha? Tentu saja sebagian besar masih membuntuti ibuk atau ayahnya, tapi semakin bertambah usia tentu mereka akan mengenal kami semua.

Demikianlah, foto-foto penuh senyuman ini diambil di akhir sesi. Itu belum termasuk aneka foto random, candid maupun selfi. Mahal dan langka? Iya, karena hanya bisa diambil setahun sekali. Saat yang di Kediri, Tangerang, Bekasi, Semarang, Wonogiri kumpul bersama di rumah kami. Sehat-sehat terus ya kita semuanya. Kita berjuang untuk bertemu dan berfoto kembali lebaran tahun depan...

Minggu, 01 Desember 2024

SETAHUN USAI GELAR KARYA


Setahun sejak hari itu, Panen Karya Guru Penggerak Angkatan 8.
Banyak banget yang sudah terjadi, dengan godaan yang paling berat adalah... ingin berhenti. Sebenarnya buat apa harus berjalan sejauh ini? Apa sebenarnya yang dicari?

Keinginan paling menggoda untuk jadi Guru Penggerak buat aku saat itu adalah, berada pada momen tertinggi seorang guru. Menjadi pemimpin pembelajaran sekaligus penggerak komunitas belajar. Pada saat berada di kelas hanya terasa sebagai rutinitas. Pada saat mata para siswa berhenti ingin tahu ini itu dan memandang sekolah hanya sebagai deretan tugas. Pada saat terasa jauh bagaimana memahami apa yang harus dilakukan untuk menumbuhkan motivasi dan daya juang mereka melihat masa depan.

Ketika berada dalam seluruh sesi PGP, sesi itu terpampang nyata. Pemahaman dan kacamata baru tentang kelasku, bagaimana memandang siswa dalam sisi terbaiknya, sekaligus cara memandang pengembangan sekolah berdasarkan potensinya. 

Kadang, pengen sekali mengumpat rasanya. Terutama, menghadapi kondisi di kelas-kelas yang rawan memicu hipertensi. Atau mungkin, memang standar aku yang terlalu tinggi. Berharap suasana kelas seperti saat aku berada pada posisi mereka saat ini. Anomali itulah yang ku nikmati keberadaannya. Menjadi kebiasaan baru bernama REFLEKSI yang terus ku terapkan hingga kini. Berteman pertanyaan absurd macam ini: Klo aku Ki Hadjar Dewantara, apa yang sebenarnya harus kulakukan di kelas ini? 

Lantas, ketika diminta merintis Komunikasi Belajar. Saat CORAK KOPI (Coach Penggerak Kolaborasi Pemikiran Inovatif) telah  berhasil dipresentasikan pada Panen Karya. Saat sekolah telah punya komunitas belajar yang lebih terstruktur bertajuk Creative Community, bukankah sudah saatnya aku bisa fokus pada kelasku sendiri? 

Tapi ternyata tidak segampang itu. Bergesernya sudut pandang bahwa Kurikulum Merdeka bukan sekedar memenuhi kebutuhan siswa. Tapi juga kebutuhan gurunya.
Kelas yang kuampu tidak akan berhasil dengan optimal jika iklim belajarnya kurang. Iklim belajar hanya bisa dijaga jika melibatkan semua orang. Semua murid, semua guru. Apa yang kurintis dan kulakukan tidak akan berdampak jika saat ini memilih berhenti.

Parahnya lagi, otak dan hatiku semakin penuh dengan rencana saat aku semakin paham bagaimana melihat frame besarnya. Visi Misi Sekolah. Sekolah yang Dicita-citakan. Apa yang sebenarnya dibutuhkan siswa. Juga petualangan kami, para guru mencari harta yang tak ternilai harganya. Inovasi.

Jadi, kupikir ini justru saatnya kembali memulai...






Rabu, 27 Maret 2024

GELAR KARYA PROJEK P5 SMADELA: GAYA HIDUP BERKELANJUTAN

"Mempromosikan Gaya Hidup Berkelanjutan adalah menanam kepedulian,demi kualitas lingkungan yang lebih baik, karakter murid yang lebih berakhlak kepada alam dan sesama, untuk dirawat dan dikembangkan baik sebagai pribadi maupun satuan pendidikan"




Selasa, 19 Maret 2024

Ramadhan Ramah Lingkungan: Aksi Nyata Sayangi Bumi Kita

Salah satu elemen kunci Beriman, Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia adalah Akhlak kepada Alam. Namun, elemen ini seringkali kita lupakan baik dalam keseharian maupun dalam pembelajaran. Padahal, pemanasan global itu nyata, pencemaran lingkungan itu terjadi setiap hari, dan hampir seluruhnya disebabkan oleh aktifitas manusia. Tidakkah kita menyadari, saat kelas mulai panas kita tak lagi nyaman beraktifitas? saat kondisi tanah tak lagi sehat memberikan nutrisi bagi tanaman sehingga pasokan oksigen disekeliling kita jadi berkurang? atau, saat lingkungan sekitar kita saban hari makin banyak aja nih sampahnya...atau, kita yang terbiasa terpaku pada layar HP kita jadi tidak peka menyadari itu semua.

Kesadaran untuk menjaga bumi bukanlah momen sekali jadi. Tidak bisa ditanamkan seminggu sekali hanya dalam pembelajaran Biologi, tidak akan berhasil jika hanya diterapkan setahun sekali saat sekolah punya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang bertema Gaya Hidup Berkelanjutan. Kebiasaan yang harus secara masif dikampanyekan, dicontohkan, dilakukan mulai dari membangkitkan kesadaran individu hingga menjadi kesadaran kolektif semua orang.

Ebook ini adalah salah satu langkah kecil itu. 

Bulan Ramadhan yang penuh berkah dimana umat muslim lebih fokus dalam beribadah, namun juga tanpa disadari akan lebih konsumtif dan secara tidak langsung akan lebih banyak menghasilkan sampah. Semoga dengan membaca buku ini bukan hanya saat Ramadhan saja kita bisa memulai untuk lebih ramah lingkungan tapi juga akan menjadi awal pembiasaan di masa mendatang. Bukan hanya membacanya tapi juga saling mengingatkan untuk menerapkan.

Selamat Membaca 💝

Sabtu, 16 Maret 2024

RAPOR PENDIDIKAN: BERSAMA BEREFLEKSI MELANGKAH MEMBENAHI

Rapor Pendidikan dapat menjadi salah satu referensi dalam mengidentifikasi layanan pendidikan pada satuan pendidikan. Rapor pendidikan adalah perangkat dan cara untuk mengidentifikasi akar permasalahan bukan untuk menghukum dan mencari siapa yang salah atau memeringkatkan satuan dan daerah, merefleksikan capaian satuan pendidikan bukan untuk membanding-bandingkan pencapaian, mendiskusikan pembenahan layanan pendidikan secara konstruktif bukan untuk menjadi tambahan beban dokumen administrasi yang tidak bermakna.

Rapor Pendidikan SMA Negeri 8 Kediri Tahun 2023

Rapor Pendidikan SMA Negeri 8 Kediri Tahun 2024


Ringkasan Rapor Pendidikan SMA Negeri 8 Kediri dalam 2 tahun terakhir dapat kita cermati bersama dalam tabel berikut:
Capaian yang secara konstan naik adalah Kemampuan Numerasi Murid (pemahaman murid terhadap domain bilangan, aljabar dan geometri) dan Kondisi Kebhinekaan Sekolah (toleransi atas agama dan budaya, kesetaraan antar murid dan komitmen. Bahkan pada tahun 2024, Kondisi Kebhinekaan Sekolah merupakan capaian dan peningkatan tertinggi. Sedangkan capaian yang tahun lalu Turun (bahkan paling perlu ditingkatkan) adalah Kondisi Keamanan Sekolah (pemahaman dan pengalaman atas hal yang bisa mengganggu fisik dan mental). Hal ini dapat menjadi potensi awal yang dapat dikembangkan oleh guru dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan komponen yang lain. 

Sebaliknya, capaian yang terus menurun dalam 2 tahun terakhir adalah Kemampuan Literasi Murid (pemahaman murid terhadap teks sastra dan informasi) dan Karakter Murid (akhlak, keimanan, sikap gotong royong, kreativitas, cara pikir dan kemandirian). Pada capaian Kualitas Pembelajaran (metode pembelajaran, pengelolaan kelas dan dukungan psikologis kepada murid) pada tahun lalu Naik, namun tahun ini Turun (Paling Perlu Ditingkatkan). 

Sekali lagi, salah satu fungsi Rapor Pendidikan merupakan perangkat dan cara untuk mengidentifikasi akar permasalahan, merefleksikan capaian satuan pendidikan serta mendiskusikan pembenahan layanan pendidikan secara konstruktif sehingga sepatutnya menjadi pemikiran bersama, tugas dan upaya bersama dalam mempersiapkan masa depan siswa di sekolah kita.

Selamat berefleksi, membangun motivasi untuk terus meningkatkan kompetensi 😍👏

#SmadelaHebat
#MajuTerusRaihPrestasi
#TergerakBergerakMenggerakkan

Sabtu, 09 Maret 2024

GALERI LOKAKARYA 7: MERAYAKAN MERDEKA BELAJAR

 "Karena proses belajar adalah unik, 
maka seluruh hasil belajar 
patut dirayakan dengan cara yang indah dan menarik"

Momen bahagia berfoto bersama BBGP Jatim, Fasilitator, Pengajar Praktik dan teman sekelas

Momen yang bikin bangga saat bapak Kepala Sekolah SMAN 8 Kediri, Bapak Mardji, S.Pd, M.Pd juga turut hadir dalam acara ini



Momen meriah penyambutan tamu undangan


Momen Indonesia Menari yang dilatih khusus oleh pelatih profesional yang juga salah satu calon guru penggerak Angkatan 8 Kota Kediri


Berfoto bersama Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri dan BBGP Jawa Timur

Sesi Presentasi: Corak Kopi (Coach Penggerak Kolaborasi Pemikiran Inovatif) sebagai Rintisan Komunitas Belajar


Sesi Tanya Jawab dan Refleksi















Jumat, 01 Maret 2024

STUDENT AGENCY: HARAPAN DAN TANTANGAN MASA DEPAN SEKOLAH

Penempuhan pakaian dinas lapangan atau biasa disebut dengan PPDL merupakan salah satu program kami. Tujuan dari diadakannya kegiatan ini yaitu untuk membentuk karakter, tanggung jawab, dan kedisiplinan dalam diri setiap pengurusnya. Materi berikut disajikan dalam kegiatan PPDL pengurus OSIS SMA Negeri 8 Kediri masa bakti 2023/2024 yang merupakan salah satu program kerja seksi bidang Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Pendidikan Politik, Lingkungan Hidup, Kepekaan dan Toleransi Sosial dalam Konteks Masyarakat Plural.


Rabu, 21 Februari 2024

Pengelolaan Kinerja: Persiapan Observasi Praktik Kinerja

Observasi kelas dilakukan untuk mengamati guru yang sedang melakukan proses pembelajaran di kelasnya. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 1 kali setiap semester melalui tahap sebagai berikut:
Bagian 1: Pelaksanaan observasi yang terdiri dari 
- Isi dokumen persiapan
- Menunggu atasan melakukan observasi
- Isi dokumen tindak lanjut


Bagian 2: Tindak lanjut observasi
- Lakukan tindak lanjut
- Isi dokumen refleksi tindak lanjut

Kegiatan ini dapat dimulai dengan berkoordinasi dengan kelompok observasi kelas untuk mempelajari fitur pada PMM yang terkait dengan observasi kelas, modul ajar sesuai dengan indikator observasi serta menyepakati jadwal observasi yang akan dilakukan. 



Modul ajar yang diupload sebagai kelengkapan persiapan observasi kelas hendaknya disesuaikan dengan indikator yang telah dipilih, misalnya pada indikator Penerapan Disiplin Positif tersedia 3 Fokus Perilaku yang Diobservasi yaitu: 
- Guru melakukan refleksi dinamika kelas untuk menerapkan kesepakatan kelas
- Guru melakukan penguatan positif terhadap perilaku yang sesuai atau mendukung kesepakatan kelas
- Guru memfasilitasi peserta didik menyadari konsekuensi dan memperbaiki perilaku melanggarnya (restitusi)

Sedangkan Rubrik Observasi Kinerja Guru mengacu pada Perdirjen GTK Nomor 7607 Tahun 2023 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala sekolah yang terdiri dari 4 form yaitu:
Formulir A: Diskusi Persiapan Observasi Kinerja Guru
Formulir B: Pelaksanaan Observasi Kinerja Guru
Formulir C: Tindak Lanjut Observasi Kinerja Guru
Formulir D: Refleksi Tindak Lanjut Observasi Kinerja Guru

Form tersebut dapat didownload DISINI

Untuk persiapan Observasi Praktik Kinerja, hanya Formulir A saja yang harus diisi, sementara Formulir B diisi pada saat observasi dan Formulir C-D diisi setelah observasi dilakukan

Selamat berdiskusi
Bersama kita ciptakan kelas yang memiliki Budaya Positif dan menginspirasi

#KurikulumMerdeka
#MerdekaMengajar
#TergerakBergerakMenggerakkan